Tokoh Terkenal dari Kerajaan Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singhasari, atau Majapahit

Questions and Key Answers to Social Sciences Class 7 Curriculum 2013 Revised 2016 Activities of Individuals Famous figures from the Kingdom of Ancient Mataram, Medang, Kediri, Singhasari, or Majapahit Page 247-248 Chapter 4 (Indonesian Society in Pre-Literary, Hindu-Buddhist, and Islamic) ~ Assalamualikum Semuanya, Kembali lagi Bersama laguasyik.com. Pada Kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 7 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Aktivitas Individu Tokoh Terkenal dari Kerajaan Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singhasari, atau Majapahit Halaman 247-248 Bab 4 (Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam) Kepada Para Siswa/Siswi Yang melihat Artikel Ini. Yuk, Kita Langsung saja ke Soal dan Jawabannya. ~

Aktivitas Individu

1. Pilihlah satu tokoh terkenal dari kerajaan Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singhasari, atau Majapahit!

2. Upayakan tokoh pilihanmu tidak sama dengan pilihan temanmu!

3. Tulis cerita singkat tentang tokoh pilihanmu!

4. Kamu boleh memanfaatkan buku bacaan, artikel, majalah,atau internet sebagai sumber untuk menulis cerita!

  • Tokoh yang dipilih dari Kerajaan Majapahit yakni Gadjah Mada.

Kerajaan Majapahit sering disebut juga sebagai Kerajaan Nasional Kedua. Alasannya karena ia merupakan kerajaan yang kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah di Nusantara. Adapun kata ‘kedua’ dikarenakan yang menyandang kerajaan nasional pertama adalah Sriwijaya.

Salah satu tokoh paling terkenal di Kerajaan Majapahit adalah Gadjah Mada sangat mahsyur namanya di Indonesia. Ia adalah panglima perang yang digambarkan dalam kitab Nagarakrtagama sebagai sosok yang jujur, tegas, tajam pikiranya serta ikhlas dan tulus. Gadjah Mada pernah menjabat sebagai Mahapatin atau menteri besar namun kemudian diangkat sebagai Amangkubhumi atau perdana menteri pada saat Kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaan.

Salah satu prestasi besar Gadjah Mada adalah ia berhasil memperluas wilayah Majapahit hampir ke seluruh wilayah Nusantara. Cita cita ini diwujudkan dengan tekad yang kuat. Bahkan ia bersumpah untuk tidak makan buah kelapa juga rempah rempah sebelum cita cita ini terwujud. Sumpah ini kemudian dikenal dengan nama Sumpah Palapa.

Pertanyaan Dari Buku: Berdasarkan cerita yang kamu tulis, nilai luhur apa yang dapat kamu petik dari tokoh yang kamu pilih?

Belajar dari sejarah berarti mengambil kebaikannya dan menghindari hal hal yang buruk, karena sejarah hadir sebagai pengingat sekaligus peringatan. Adapun nilai luhur yang dipetik dari Gadjah Mada adalah tekadnya yang kuat dan kesetiannya terhadap bangsanya yang tinggi. 

Majapahit mencapai kebesarannya karena ada tokoh Gadjah Mada yang mendampingi sang raja. Meski demikian, invasi militer yang dilakukan Gadjah Mada sebagai jalan penaklukan kerajaan lain harus menjadi pelajaran yang baik bahwa jalan kekerasan selalu berbuah kepahitan. Majapahit runtuh salah satu penyebabnya adalah perang saudara karena banyak wilayah yang mau melepaskan diri.

  • Tokoh yang dipilih dari Kerajaan Mataram Kuno yakni Rakai Pikatan

Nama asli dan Gelar

Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan.

Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

Menurut prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram.

Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Mamrati turun takhta dan menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856.

Perkawinan dengan Pramodawardhani

Prasasti Wantil juga menyinggung perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan seorang putri beragama lain. Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialah Pramodawardhani dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agama Hindu Siwa.

Pramodawardhani adalah putri Samaratungga yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun 824. Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Mungkin saat itu Pramodawardhani belum menjadi istri Mpu Manuku.

Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama dengan Maharaja Rakai Garung dan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggota Wangsa Sanjaya yang berhasil menjalin hubungan perkawinan dengan Wangsa Sailendra.

Teori ini ditolak oleh Slamet Muljana karena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dari pulau Sumatra dan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.

Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807, sedangkan Pramodawardhani masih menjadi gadis pada tahun 824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh. Mungkin, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga.

Pramodawardhani bukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Kiranya saat itu gelar mpu belum identik dengan kaum laki-laki.

Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istri Dyah Balitung, yaitu raja yang mengeluarkan prasasti Mantyasih (907).

Perang melawan Balaputradewa

Balaputradewa putra Samaragrawira adalah raja Kerajaan Sriwijaya. Teori populer yang dirintis oleh sejarawan Krom menyebutkan bahwa, Samaragrawira identik dengan Samaratungga sehingga secara otomatis, Balaputradewa adalah saudara Pramodawardhani.

Dalam prasasti Wantil disebutkan bahwa Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan berperang melawan musuh yang membangun pertahanan berupa timbunan batu di atas bukit. Musuh tersebut dikalahkan oleh Dyah Lokapala putra Jatiningrat. Dalam prasasti itu terdapat istilah Walaputra, yang ditafsirkan sebagai Balaputradewa. Akibatnya, muncul teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga yang berakhir dengan kekalahan Balaputradewa.

Slamet Muljana menolak anggapan bahwa Samaragrawira identik dengan Samaratungga karena menurut prasasti Kayumwungan, Samaratungga hanya memiliki seorang anak bernama Pramodawardhani. Menurutnya, Samaragrawira lebih tepat disebut sebagai ayah dari Samaratungga. Dengan demikian, Balaputradewa merupakan paman dari Pramodawardhani.

Teori populer menganggap Balaputradewa membangun benteng dari timbunan batu di atas bukit Ratu Baka dalam perang melawan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Namun, menurut sejarawan Buchari, di bukit Ratu Baka tidak dijumpai prasasti atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Mungkin tokoh ini yang memberontak terhadap pemerintahan Rakai Pikatan karena ia juga mengaku sebagai keturunan asli pendiri kerajaan, yaitu Sanjaya.

Sementara itu istilah Walaputra dalam prasasti Wantil bermakna “putra bungsu”. Jadi, istilah ini bukan nama lain dari Balaputradewa, melainkan julukan untuk Dyah Lokapala, yaitu pahlawan yang berhasil mengalahkan Rakai Walaing, musuh ayahnya.

Dengan demikian, teori populer bahwa telah terjadi perang saudara antara Rakai Pikatan melawan iparnya, yaitu Balaputradewa mungkin keliru.Kiranya Balaputradewa meninggalkan pulau Jawa bukan karena kalah perang, tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak memiliki hak atas takhta Kerajaan Medang, mengingat ia bukan putra Samaratungga melainkan adiknya.

Wangsa Sailendra di bawah pimpinan Dharanindra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, bahkan sampai Kamboja. Sepeninggal Dharanindra, kekuasaannya diwarisi oleh Samaragrawira. Mungkin ia tidak sekuat ayahnya karena menurut prasasti Po Ngar, Kamboja berhasil merdeka dari penjajahan Jawa pada tahun 802.

Atas dasar tersebut, sepeninggal Samaragrawira mungkin kekuasaan Wangsa Sailendra dibagi menjadi dua, dengan tujuan agar pengawasannya bisa lebih mudah. Kekuasaan atas pulau Jawa diberikan kepada Samaratungga, sedangkan kekuasaan atas pulau Sumatra diberikan kepada Balaputradewa.

Pendirian Candi Prambanan

Prasasti Wantil disebut juga Prasasti Siwagrha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagrha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.

Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplek Candi Prambanan.Dengan demikian,bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.

Akhir Pemerintahan

Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun takhta menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856.Takhta Kerajaan Medang kemudian dipegang oleh putra bungsunya, yaitu Dyah Lokapala alias Rakai Kayuwangi.

Penunjukan putra bungsu sebagai maharaja ini kiranya berdasarkan atas jasa mengalahkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni sang pemberontak. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan karena kelak muncul prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi. Nama ini tidak terdapat dalam daftar raja prasasti Mantyasih, sehingga dapat diperkirakan pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi telah terjadi perpecahan kerajaan.

Nama Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Dyah Ranu ditemukan dalam prasasti Plaosan setelah Rakai Pikatan. Mungkin mereka adalah anak Rakai Pikatan. Atau mungkin juga hubungan antara Dyah Ranu dan Dyah Saladu adalah suami istri.

Pada tahun 807 Mpu Manuku sudah menjadi pejabat, yaitu sebagai Rakai Patapan.Ia turun takhta menjadi brahmana pada tahun 856. Mungkin saat itu usianya sudah di atas 70 tahun.Setelah meninggal dunia,Sang Jatiningrat dimakamkan atau didharmakan di desa Pastika.

Pertanyaan Dari Buku: Berdasarkan cerita yang kamu tulis, nilai luhur apa yang dapat kamu petik dari tokoh yang kamu pilih?

Nilai yang dapat diambil yaitu mau menerima pernikahan politik antara dirinya (Rakai Pitakan) dari keluarga Sanjaya dengan Pramodawardhani (Putri Raja Samaratungga).Dan memiliki sikap yang ambisius dalam memimpin kerajaan.

  • Tokoh yang dipilih dari Kerajaan Medang yakni Mpu Sindok.

Pada masa pemerintahan Sendok MPU pada tahun 928, tanah air kami dibagi menjadi dua wilayah yang berpengaruh, barat di bawah pengaruh Sriwijaya dan timur di bawah pengaruh oleh Mataram.

Mpu Sendok, merupakan seorang bangsawan dari kerajaan Mataram, yang telah mendirikan kerajaan baru di wilayah Jawa Timur atau dapat disebut sebagai RAKAI HINO MPU SPOON dalam 929-1222 AD.

Setelah kematian Mpu Sendok pada tahun 947, ia telah digantikan dengan seorang putranya yang bernama Sri Isyana Tunggawijaya, yang menikah bersama Lokapala, dan oleh putranya Sri Makutawangsa Whardana. Dalam tahun 990-1007, Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa menjadi raja.

Pada saat itu, pemerintah Dharmawangsa yakni telah memutuskan untuk memperhatikan kebijakan luar negeri, mempromosikan dalam kerajaan laut yang kuat, dan mampu mengendalikan sebuah perdagangan di laut. Pada 1007, ketika Dharmawangsa merayakan pernikahan dari putrinya bersama Airlangga.

Tiba-tiba istana diserang dan dibakar. Dharmawangsa terbunuh. Sementara Airlangga melarikan diri dari acara ini ditemani oleh Narotama, ia kemudian tinggal di hutan dekat Wonogiri selama 4 tahun.

Asal Usul

Mpu Sindok menjabat sebagai Rakai Mahamantri Halu pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong, sementara ia dipromosikan menjadi Rakai Mahamantri Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa. Keduanya adalah posting senior yang hanya bisa diisi oleh keluarga kerajaan. Karena itu, Mpu Sindok adalah seorang bangsawan terkemuka di kerajaan Medang.

Mpu Sindok yakni mempunyai seorang istri yakni Sri Parameswari Dyah Kebi putri Rakai Bawa. Sejarawan Poerbatjaraka menganggap Rakai Bawa sebagai Dyah Wawa. Mpu Sindok dianggap sebagai menantu perempuan Dyah Wawa. Namun, Rakai Bawa adalah nama departemen, sedangkan Dyah Wawa ialah nama seseorang, sehingga keduanya tidak tertandingi.

Stutterheim yakni telah menemukan sosok bawang Rakai Mpu Dyah, seorang pejabat pemerintah dari pemerintah Mpu Daksa. Menurutnya, Mpu Partha yakni telah dianggap sebagai ayah dari Dyah Wawa. Juga ditemukan Rakryan Bawang Dyah Srawana, yang juga bisa menjadi ayah dari Dyah Kebi.

Prasasti Mpu Sindok

Prasasti ini tidak hanya memberikan sebuah informasi yang penting tentang acara keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan adanya sebuah perkembangan tingkat budaya literasi di kalangan masyarakat. Presentasi merupakan sebuah tahap atau fase dalam pengembangan budaya literasi.

Menurut isinya, prasasti Empu-Sindok yakni dapat disebut sebagai prasasti Turyyan, yang kemudian menerima nama Desa Turen sebagai tempat prasasti. Penduduk setempat menyebutnya Watu Godeg.

Prasasti itu menyatakan bahwa pada 15 Juli 929 Dang Atu pu Sahitya mengajukan banding ke Suklapaksa Srawana 851 Saka atau pada 24 Juli 929 ke Sendok Rake Hino Dyah Sri Maharaja untuk menerima hadiah tanah sebagai pembangunan sebuah bangunan suci.

Wafatnya Mpu Sindok

Mpu Sindok yakni telah meninggal pada 947 dan telah diculik di Isanabhawana atau Isanabajra. Meskipun dia adalah seorang Hindu Siwa, dia masih memiliki banyak toleransi dalam agama-agama lain.

Sebagai contoh, ia memindahkan desa Wanjang sebagai sati swatantra ke seorang penyair yang bernama Sri Sambhara Suryawarana, yang dikreditkan dengan menulis sekolah Buddha Tantrayana yakni yang berjudul Sang Hyang Kamahayanikan.

Menurut prasasti Pucangan, Mpu Sindok yakni telah digantikan dengan seorang putrinya, namanya ialah Sri Isana Tunggawijaya. Ratu ini, telah memerintah dengan suaminya, yakni Sri Lokapala.

Pertanyaan Dari Buku: Berdasarkan cerita yang kamu tulis, nilai luhur apa yang dapat kamu petik dari tokoh yang kamu pilih?

Mpu Sindok dalam memimpin Kerajaan Mataram dianggap sebagai sosok yang bijaksana utamanya dalam mengambil kebijakan ekonomi dimana Mpu Sindok banyak membangun bendungan dan memberikan hadiah berupa tanah guna pemeliharaan bangunan suci demi meningkatkan kehidupan rakyat. Mpu Sindok juga memiliki rasa toleransi yang tinggi dan memiliki kecintaan yang besar terhadap dunia sastra. Hal ini ditunjukkan dengan keinginannya mengenai adanya penyusunan kitab suci agama Buddha yakni kitab Sahyang Kamahayamikan dimana Mpu Sindok sendiri beragama Hindu.

  • Tokoh yang dipilih dari Kerajaan Kediri yakni Jaya Baya

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Kerajaan Kediri pada masa kejayaannya dipimpin oleh seorang Maharaja bernama Jayabaya Dia memimpin Kediri pada tahun 1135 sampai 1157. Sejarah Jayabaya bisa dilihat dari prasasti Jepun, prasasti hantang dan prasasti talan. Pada masa Jayabaya Kediri bisa disatukan karena dia adalah raja yang mampu mengalahkan Kerajaan Jenggala

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kediri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kediri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kediri selama perang melawan Jenggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri.

Kemenangan Jayabhaya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh empu Sedah dan empu Panuluh tahun 1157.

Dalam memerintah Jayabaya terkenal sebagai raja yang pandai dan bijaksana. Pada saat itu Kerajaan Kediri mencapai ke Puncak kemakmurannya. Jayabaya mempunyai seorang istri bernama Dewi Sarah dia dikaruniai oleh 5 orang anak. Jayabaya merupakan seseorang yang mampu meramal apa yang terjadi di nusantara di masa depan beberapa ramalannya bisa terbukti sampai saat ini. Salah satunya adalah dia meramalkan akan ada orang dari jauh berkulit putih dan berkulit kuning, ternyata benar orang-orang itu adalah orang Belanda dan orang Jepang yang menjajah tanah Nusantara. Kemudian tentang ramalan bahwa nanti ada kereta berjalan tanpa kuda hal itu bisa diasumsikan adalah mobil dan perahu atau kapal yang bisa terbang di awan itu asumsinya adalah pesawat terbang. Dia juga meramalkan bahwa akan ada banyak bencana di nusantara berupa gempa bumi dan bencana yang lain. Selain itu dia juga meramalkan bahwa akan ada musim hujan yang salah musim ini juga diasumsikan sebagai kejadian pada saat itu yaitu terjadinya global warming atau pemanasan global.

Pertanyaan Dari Buku: Berdasarkan cerita yang kamu tulis, nilai luhur apa yang dapat kamu petik dari tokoh yang kamu pilih?

Nilai Luhur dari Raja Prabu Jayabaya adalah Prabu Jayabaya dalam memimpin Kerajaan Kediri dianggap sebagai sosok pemimpin yang amat bijak, kuat tirakatnya dalam mengemban tugas negara. Dalam mengatasi masalah yang dihadapi, Prabu Jayabaya beserta istri dan menteri-menterinya melakukan perenungan guna memohon petunjuk Tuhan.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 7 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Aktivitas Individu Tokoh Terkenal dari Kerajaan Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singhasari, atau Majapahit Halaman 247-248 Bab 4 (Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam)”, Dan Terima Kasih Sudah Berkunjung Blog Yang Sederhana. Semoga Kunci Jawaban Ini Bisa Membantu Kalian Yang Belum Menjawab Soal dan Kunci Jawaban Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 7 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Aktivitas Individu Tokoh Terkenal dari Kerajaan Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singhasari, atau Majapahit Halaman 247-248 Bab 4 (Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam). Jika ada Kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun Salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika Ada Pertanyaan Dan Ada Saran Untuk kelebihan dan kekurangan Selain Ini Bisa Komen Di Kolom Komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Apa perbedaan antara suhu dan kalor?

[Kunci Jawaban] Apa perbedaan antara suhu dan kalor? Pertanyaan: Apa perbedaan antara suhu dan kalor? …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!