Breaking News

Teks Negosiasi Larangan membawa sepeda motor ke sekolah

Questions and Answer Key Indonesian Grade 10 curriculum in 2013 Revised 2016 Activity 1 Develop Oral Negotiating Text in Dialog Form Prohibition of bringing motorcycles to school Page 170 Section 5 (Make Deal Through Negotiation) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Kegiatan 1 Menyusun Teks Negosiasi Lisan dalam Bentuk Dialog Larangan membawa sepeda motor ke sekolah Halaman 170 Bab 5 (Membuat Kesepakatan Melalui Negoisasi) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

Kegiatan 1

Menyusun Teks Negosiasi Lisan dalam Bentuk Dialog

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengidentifikasi permasalahan yang perlu dinegosiasikan oleh beberapa pihak karena adanya perbedaan kepentingan. Berikut ini contoh permasalahan yang bisa diangkat menjadi topik negosiasi.

1. Larangan membawa sepeda motor ke sekolah.

Contoh 1 :

Orientasi

Suatu hari di sebuah SMA di kota Makassar Selatan, siswa-siswa berkumpul di koridor kelas, membicarakan  sekolah melarang membawa sepeda motor ke sekolah, tiba-tiba kepala sekolah datang.

Edo: “Oy, apa kalian sudah tahu pengumuman dari kepsek yang melarang bawa motor ke sekolah? Itu benar-benar menyusahkan kita…”

Ardi: “Hm, iya, tuh. Bisa-bisa harus beranikan diri untuk minta uang tambah untuk naik angkot.”

Yani: “Nah, iya juga, ya.”

Edo: “Tapi kamu enak, yan. Bisa diantar, ada supir di rumahmu.”

Kepsek : “Ada apa ini anak-anak, seru sekali.”

Norman: “E….ee…ini pak kepaka sekolah, kita keberatan dengan pemberitahuan Bapak saat upacara tadi. Karena kami direpotkan dengan larangan tersebut. Kalau harus meminta uang jajan tambahan kasihan sama orang tua Pak.”

Kepsek: “Oh… begitu to rupanya.”

Permintaan

Edo: “Maaf ya Pak Kepsek, apakan keputusan itu harus dilakukan? Kasianilah kami Pak.”

Kepsek: “Iya… secepatnya akan Bapak berlakukan.”

Pemenuhan

Norman:”Maaf ya pak….apa tidak bisa diberi kelonggaran? Misalnya dengan menyediakan bus sekolah. Di sekolah ini kan ada tiga bus. Kita bagi titik penyemputan menjadi tiga, sehingga kita akan dijemput pada titik-titik tertentu.”

Edo: “Ide bagus itu Pak.”

Kepsek: “Lho kan butuh biaya operasional Nak?”

Penawaran

Edo: “Pak kan ada Pasekolah, pete-pete yang menjemput siswa di kota Makassar dan gratis. Itu saja Pak. Kita nanti akan bekerja sama dan mengirim surat kepada Pemkot Kota Makassar.”

Persetujuan

Kepsek: “Oh bisa…ide yang bagus. Semoga kita berhasil mewujudkannya. Bapak walikota Makassar memang peduli terhadap anak sekolah. saya akan coba, terima kasih Nak.”

Penutup

Seminggu kemudian larangan membawa kendaraan bermotor bisa dijalankan dan sekolah bekerjasama dengan pihak Pemkot Makassar dengan menggunakan Pesekolah. Siswa-siswa menjalankan kebijakan sekolah dengan ikhlas.

Contoh 2 :

Orientasi:

Seperti biasa Anto berangkat dari rumah membawa sepeda motor. Orangtua Anto mengijinkan Anto membawa motor, meski Anto masih kelas X, karena kedua orangtuanya tidak bisa mengantar Anto ke sekolah.

Satpam : “Stooooop!”

Pengajuan:

Siswa : “Ada apa, Pak? Kok di-stop? Keburu bel, Pak.”

Satpam : “Motor dilarang masuk ke sekolah hari ini!”

Penawaran:

Siswa : “Dua hari yang masih boleh kok, Pak.”

Satpam : “Berarti kemarin kamu tidak masuk sekolah ya?”

Siswa : “Iya, Pak.”

Satpam : “Yang diijinkan membawa sepeda motor hanya siswa yang telah memiliki SIM saja.”

Pengajuan:

Siswa : “Waduh, Pak. Saya belum punya SIM.”

Satpam : “Kalau belum punya, dilarang masuk!”

Penawaran:

Siswa : “Pak, rumah saya jauh. Sekali ini saja, Pak. Besok tidak akan saya ulangi. Saya juga baru tahu hari ini, Pak.”

Satpam : “Aturan ya aturan.”

Siswa : “Tolong saya, Pak. Sekali ini saja.”

Persetujuan:

Satpam : “Baiklah. Tapi motornya ditaruh di depan pos satpam saja. Nanti saya ditegur sama wakasek kalau ketahuan. Janji besok tidak akan membawa motor sampai punya SIM.”

Siswa : “Siap, Pak. Terima kasih, Pak.”

Contoh 3 :

Suatu hari di sebuah SMA di kota Makassar, siswa-siswa berkumpul di koridor kelas, membicarakan  sekolah melarang membawa sepeda motor ke sekolah, tiba-tiba kepala sekolah datang.

Ari : “Teman-teman tadi pengumuman kepala sekolah yang sekolah melarang membawa sepeda motor ke sekolah benar-benar merugikan kita.”

Sandi :”Betul teman-teman. Kita harus minta tambahan uang jajan, karena harus membayar uang angkot.”

Iyan : “Betul teman.”

Ari : “tapi kamu enak Iyan. Kamu kan bisa diantar, ada supir di rumahmu.”

Kepsek : “Ada apa ini anak-anak, seru sekali”

Arman  : “E….ee…ini pak kepaka sekolah, kita keberatan dengan pemberitahuan Bapak saat upacara tadi. Karena kami direpotkan dengan larangan tersebut. Kalau harus meminta uang jajan tambahan kasihan sama orang tua Pak.”

Kepsek : “Oh… begitu to rupanya.”

Ari : “Maaf ya Pak Kepsek, apakan keputusan itu harus dilakukan? Kasianilah kami Pak.”

Kepsek : “Iya… secepatnya akan Bapak berlakukan.”

Arman : “Maaf ya pak….apa tidak bisa diberi kelonggaran. Misalnya dengan menyediakan bus sekolah. di sekolah ini kan ada tiga bus. Kita bagi titik penyemputan menjadi tiga, sehingga kita akan dijemput pada titik-titik tertentu.”

Ari : “Ide bagus itu Pak.”

Kepsek : “lho kan butuh biaya operasional Nak?”

Ari : “Pak kan ada Pasekolah, pete-pete yang menjemput siswa di kota Makassar dan gratis. Itu saja Pak. Kita nanti akan bekerja sama dan mengirim surat kepada Pemkot Kota Makassar.”

Kepsek : “Oh bisa…ide yang bagus. Semoga kita berhasil mewujudkannya. Bapak walikota Makassar memang peduli terhadap anak sekolah. saya akan coba, terima kasih Nak”

Seminggu kemudian larangan membawa kendaraan bermotor bisa dijalankan dan sekolah bekerjasama dengan pihak Pemkot Makassar dengan menggunakan Pesekolah. Siswa-siswa menjalankan kebijakan sekolah dengan ikhlas.

Contoh 4 :

Orientasi:

Banyak anak yang mengeluh akibat peraturan larangan membawa motor, khususnya mereka yang jauh dari akses transportasi umum, ditambah banyak sekali angkot atau bisa yang sering menunggu penumpang sampai penuh (ngetem). Novi, sebakai Ketua OSIS ingin membantu teman-temannya itu agar tidak terlambat ke sekolah.

Novi : “Selamat Pagi, Bu. Mohon maaf, apakah saya boleh masuk?”

Kepala sekolah : “Pagi, Novi. Silahkan ada yang bisa Ibu bantu?”

Pengajuan:

Novi : “Begini, Bu. Saya bermaksud untuk menyampaikan aspirasi para siswa khususnya kelas XI dan XII yang telah memiliki SIM, terkait larangan membawa motor, apakah dapat diberikan prioritas khusus Bu?”

Penawaran:

Kepala Sekolah : “Novi, sebetulnya tujuan larangan ini adalah untuk menekan tingkat kecelakaan berkendara oleh siswa/siswi, sebab sekolah juga memiliki tanggung jawab atas keselamatan anak didiknya, jadi ini harus diberikan ketegasan.”

Pengajuan:

Novi : “Pada dasarkan kami sangat setuju dengan itu semua Bu, tetapi banyak anak yang sudah memiliki SIM, ditambah banyak anak yang rumahnya cukup jauh dan susahnya akses transportasi. Bagaimana jika khusus anak yang susah memiliki SIM diperbolehkan Bu, apa lagi anak-anak yang sudah kelas XII, sering kali pulang sore karena ada les tambahan di sekolah.”

Penawaran:

Kepala Sekolah : “Apakah Novi sudah menganalisa masalah ini, misalnya sala bagaimana pihak sekolah dapat mengenali anak-anak yang memiliki SIM?”

Pengajuan:

Novi : “Kami dan anggota OSIS lainnya akan melakukan koordinasi dan mendata anak-anak yang sudah memiliki SIM, kemudian wajib membawanya tanpa terkecuali, ditambah mungkin dengan menempelkan stiker khusus di bagian depan motor untuk mempermudah mengenalinya oleh siapapun termasuk Pak Satpam. Oia Bu, sebelum masuk atau keluar motor, siswa/ siswi wajib juga diperiksa kelenggakapan surat-suratnya, untuk mengantisipasi tindakan pemalsuan stiker.”

Persetujuan:

Kepala Sekolah : “Ibu suka dengan ide itu, segera laksanakan untuk mempermudah siswa/siswi agar tepat waktu sampai di sekolah. Yang terpenting adalah tanggung jawab dalam berkendara, jangan ugal-galan.”

Novi : “Terima kasih banyak, Bu. Segera akan saya koordinasikan dengan anggota OSIS terkait masalah ini.”

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Kegiatan 1 Menyusun Teks Negosiasi Lisan dalam Bentuk Dialog Larangan membawa sepeda motor ke sekolah Halaman 170 Bab 5 (Membuat Kesepakatan Melalui Negoisasi)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum 2013 Revisi 2016 Kegiatan 1 Menyusun Teks Negosiasi Lisan dalam Bentuk Dialog Larangan membawa sepeda motor ke sekolah Halaman 170 Bab 5 (Membuat Kesepakatan Melalui Negoisasi). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

Kata Kunci:

  • https://laguasyik com/teks-negosiasi-larangan-membawa-sepeda-motor-ke-sekolah/

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Rasio dari dua dua bilangan adalah 3 : 4. Jika masing-masing bilangan ditambah 2, rasionya menjadi 7 : 9. Tentukan hasil kali kedua bilangan itu!

[Kunci Jawaban] Rasio dari dua dua bilangan adalah 3 : 4. Jika masing-masing bilangan ditambah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!