Mengapa pemerintahan Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” dalam memerintah di Hindia Belanda?

Questions and Answer Keys Indonesian History Class 11 Curriculum 2013 Revised 2017 TRAINING COMPETENCY TEST Why did the government of the Commissioner General take the policy of “the middle way” in governing in the Dutch East Indies Page 66 Chapter 1 (Between Colonialism and Imperialism) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Mengapa pemerintahan Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” dalam memerintah di Hindia Belanda Halaman 66 Bab 1 (Antara Kolonialisme dan Imperialisme) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

LATIH UJI KOMPETENSI

1. Mengapa pemerintahan Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” dalam memerintah di Hindia Belanda?

Kerena masih adanya pertentangan antara kaum liberal dan kaum konservatif tentang bagaimana mengelola tanah jajahan.

Kaum liberal yakin dengan memberi kebebasan kepada petani untuk menanam dan dikelola oleh pihak swasta, maka hasilnya akan maksimal. Kaum konservatif berpendapat sebaliknya.

Karena polemik ini tak kunjung reda sementara kas Belanda semakin menipis, maka Komisaris Jenderal mengambil jalan tengah.

Karena adanya pertentangan inilah yang membuat Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya Konfilik di kalangan Kaum Hindia Belanda.

2. Tunjukkan bukti-bukti tindakan Raffles di Indonesia yang tidak sesuai dengan pandangannya sebagai seorang liberal, bandingkan dengan Daendels!

Bukti-bukti tindakan Raffles di Indonesia yang tidak sesuai dengan pandangannya sebagai seorang liberal:

  • Pelaksanaan sistem sewa tanah/pajak tanah yang kemudian meletakkan dasar bagi perkembangan sistem perekonomian
  • Penghapusan pajak& penyerahan wajib hasil bumi
  • Penghapusan kerja rodi & perbudakan
  • Penghapusan sistem monopoli
  • Peletakkan desa sebagai unit administrasi penjajahan

Bukti tindakan Daendels yang bertentangan dengan pandangannya sebagai seorang liberal:

  • Melaksanakan kerja Rodi membangun jalan anyer panarukan
  • Menyiksa penduduk lokal

3. Mengapa pemerintahan Hinda Belanda melaksanakan Tanam Paksa?

Setelah menghadapi perang Jawa dan lepasnya Belgia pada 1830, kas negara Belanda menjadi kosong. Atas inisiasi Van Den Bosch diadakan penanaman tanaman yang laku dipasar internasional hal tersebut adalah tanam paksa atau Cultuur Stelsel.

Perang Jawa merupakan perang terbesar yang dialami oleh Belanda di Nusantara tercatat ada 200.000 orang di Jawa tewas selama peperangan. Di pihak Belanda, 8000 prajurit Eropa terbunuh, dan 7000 prajurit, yang direkrut Belanda dari wilayah Nusantara, tewas. Belanda juga mengalami kerugian materi sebesar 20 juta gulden. Biaya perang besar inilah yang menyebabkan kas belanda kosong.

Revolusi Belgia meletus di Kota Brussels. Revolusi tersebut adalah upaya orang-orang Kerajaan Belanda di bagian selatan yang ingin memisahkan diri dari Belanda. Revolusi Belgia berlangsung hingga 21 Juli 1831 dan berakhir dengan kemenangan pemberontak Belgia atas Belanda. Dengan kemenangan itu, terbentuklah Kerajaan Belgia yang merdeka. Belgia sendiri merupakan wilayah penting bagi Belanda karena menjadi pusat Industri kerajaan Belanda pemberontakan tersebut menyebabkan tekanan terhadap keuangan belanda.

Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dikeluarkan di era Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch (1830-1833). Sistem tanam paksa sendiri yakni setiap petani desa wajib menyisihkan 20 persen tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor yang ditentukan pemerintah kolonial. Jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam paksa yaitu tanaman seperti kopi teh, tebu, dan nila. Tujuan pemerintah Kolonial Belanda melaksanakan sistem tanam paksa adalah untuk memperbaiki kas negara yang banyak terkuras membiayai Perang Jawa serta melunasi utang negara.

Dengan demikian tujuan utama tanam paksa adalah mengisi kekosongan kas kerajaan Belanda akibat Perang Jawa dan Revolusi Belgia.

4. Mengapa pelaksanaan Tanam Paksa menimbulkan pro dan kontra di lingkungan masyarakat di negeri Belanda?

Mengapa pelaksanaan Tanam Paksa menimbulkan pro dan kontra di lingkungan masyarakat di negeri Belanda, karena di satu sisi, Tanam Paksa menghasilkan keuntungan yang sngat besar bagi pemerintah dan pengusaha Belanda, namun di sisi lain, Tanam Paksa menyebabkan penderitaan bagi rakyat Indonesia yang harus bekerja keras memenuhi tuntutan Tanam Paksa. 

Tanam Paksa adalah aturan dimana penduduk Indonesia harus menyediakan sebagian lahannya untuk ditanami tanaman produksi untuk kepentingan ekspor, atau bila tidak, bagi mereka yang tidak memiliki tanah harus bekerja selama hingga 6o hari di perkebunan milik Belanda. Hasil panen ini harus diserahkan kepada Belanda.

Kebijakan ini dijalankan sejak masa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, yang menjabat tahun 1830-1833. Tujuan dari tanam paksa ini adalah untuk mendapatkan keuntungan besar dari ekspor tanaman produksi.  Hasil dari kebijakan ini, pemerintah Belanda mendapatkan keuntungan dari penjualan tnaman produksi yang besar.

Akibat dari Tanam Paksa, banyak rakyat yang kehilangan lahannya untuk ditanami tanaman ekspor, dan banyak pekerja yang harus bekerja di perkebunan Belanda melebihi waktu yang seharusnya. Akibat dari sistem ini, jumlah lahan pertanian untuk padi menurun, dan terjadi kelaparan seperti di Cirebon (1844), Demak (1848), dan Grobogan (1849).

Meski keuntungan yang didapat pengusaha Belanda besar, penduduk adli Indonesia harus menderita karena harus bekerja dengan gaji kecil dan kondisi berat. Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mencuat di Belanda setelah ditulis oleh penulis Multatuli (nama asli Eduard Douwes Dekker) dalam novelnya “Max Havelaar”, yang bercerita tentang penderitaan pekerja pribumi di perkebunan kopi milik pengusaha Belanda.  Akibatnya di Belanda terjadi pro kontra terhadap penerapan Tanam Paksa.

Situasi pro kontra Tanam Paksa ini disimpulkan dalam istilah “Koloniaal profijt van onvrije arbeid” yang berarti keuntungan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun penderitaan bagi buruh yang tertindas

Akibat tulisan ini, disertai dengan aktivisme di Belanda dari Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus), maka pemerintah Belanda menjalankan politik Etis atau Politik Balas Budi yang berusaha meningkatkan pendidikan dan kondisi kehidupan penduduk asli Hindia Belanda. 

5. Jelaskan persamaan dan perbedaan pelaksanaan Tanam Paksa dan pelaksanaan usaha swasta di Hindia Belanda!

Persamaan :

  • Menghasilkan devisa
  • Usaha yg dilakukan adalah tanaman jual
  • Dikerjakan secara pertanian
  • Berada dipengawasan belanda

Perbedaan

  • Tanam paksa adalah pengumpulan dana untuk mengisi kekosongan kas. Sedangkan usaha swasta hanya sebatas mengumpulkan dana biasa.
  • Tanah paksa dilakukan secara paksa kepada pribumi sedangkan usaha swasta sukarela karena bersifat bisnis
  • Tanah paksa dikerjakan oleh pribumi sedangkan usaha swasta oleh masyarakat belanda dan laim-lain dalam kebijakan rasial belanda.
  • Tanam paksa dikerjakan individu sedangkan usaha swasta oleh perusahaan.

6. Jelaskan proses masuknya agama Katolik dan Kristen di Indonesia!

Masuknya agama Kristen Katolik ke Nusantara memiliki catatan tersendiri dalam sejarah Indonesia. Fase masuk dan berkembangnya ajaran Kristiani di Nusantara terjadi seiring dengan dimulainya periode kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Eropa.

Dikutip dari buku Sedjarah Geredja di Indonesia (1966) karya Th. Muller Kruger, ajaran Kristen mulai memasuki wilayah Nusantara pada abad ke-16 Masehi. Saat itu, agama Islam sedang berkembang pesat seiring era Hindu-Buddha yang kian meredup.

Adalah bangsa Portugis yang membawa ajaran Kristen Katolik ke Nusantara. Mereka berlayar dengan tujuan mencari rempah-rempah. Orang-orang Portugis ini mengusung misi 3G yaitu gold (kekayaan), glory (kejayaan), dan gospel (agama), dalam penjelajahan ke dunia baru.

Selanjutnya adalah orang-orang Belanda yang membawa ajaran Kristen Protestan ke Nusantara pada abad ke-17, demikian diungkapkan T.B. Simatupang melalui tulisan bertajuk “Dynamics for Creative Maturity” dalam Asian Voices in Christian Theology (1976).

Dengan demikian, sebelum Islam menyebar di seluruh Indonesia, kekristenan hadir dengan menancapkan kukunya di daerah-daerah yang belum terlalu dimasuki Islam maupun Hindu dan Buddha, seperti Maluku, Timor, sebagian Sumatera dan Sulawesi, hingga akhirnya Papua.

Portugis & Misi

Penyebaran Kristen di Nusantara Salah satu tujuan pelayaran Portugis adalah Kepulauan Maluku yang memang menjadi surga rempah-rempah, komoditas yang amat laku dan mahal di Eropa.

Kedatangan Portugis di Maluku diterima di Maluku, termasuk oleh Kesultanan Ternate. Bahkan, Portugis diizinkan membangun benteng yang berfungsi sebagai pangkalan militer, pedagang, dan pusat agama di wilayah Ternate yang terletak di Maluku Utara.

Menurut tulisan Usman Nomay berjudul “Portugis dan Misi Kristenisasi di Ternate” dalam jurnal Fikrah (Volume 2, Juni 2014), bangsa Portugis mengusung misi Jesuit. Di mana saja dan kapan saja serta tanah mana yang mereka datangi dan tempati, pengabaran injil adalah sebuah pesan suci yang perlu dilaksanakan.

Dengan demikian, orang Portugis berusaha dengan cara dan metode yang bermacam-macam untuk mengajak orang Maluku, baik yang sudah beragama Islam maupun yang masih menganut paham animisme dan dinamisme, untuk mengimani ajaran Kristen.

Salah satu misionaris awal Kristen Katolik asal Portugis di Maluku adalah Simon Vaz. Dikutip dari Kepulauan Rempah-rempah (2016) karya M. Adnan Amal, Simon Vaz adalah orang yang mengkristenkan sejumlah bangsawan Ternate, termasuk Tabariji yang sempat menjadi Sultan Ternate pada 1533-1534.

Salah satu misionaris awal Kristen Katolik asal Portugis di Maluku adalah Simon Vaz. Dikutip dari Kepulauan Rempah-rempah (2016) karya M. Adnan Amal, Simon Vaz adalah orang yang mengkristenkan sejumlah bangsawan Ternate, termasuk Tabariji yang sempat menjadi Sultan Ternate pada 1533-1534.

Pada 1536, Simon Vaz tewas terbunuh. Setelah itu, hadir Antonio Golvao, seorang tokoh militer Portugis, yang kemudian membuka sekolah Kristen Katolik di Ternate.

Penyebaran ajaran Kristen Katolik juga dilakukan di banyak wilayah Maluku lainnya, juga kemudian ke kawasan Timor, hingga akhirnya Portugis berhasil diusir dari Kepulauan Nusantara pada 1575.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Mengapa pemerintahan Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” dalam memerintah di Hindia Belanda Halaman 66 Bab 1 (Antara Kolonialisme dan Imperialisme)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Mengapa pemerintahan Komisaris Jenderal mengambil kebijakan “Jalan tengah” dalam memerintah di Hindia Belanda Halaman 66 Bab 1 (Antara Kolonialisme dan Imperialisme). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya?

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya? Pertanyaan: 3. Kalor lebur es …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!