Breaking News

Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah?

Questions and Answer Keys for PPKN Class 12 Curriculum 2013 Revised 2018 Group Tasks 1.1 Why are economic factors considered the main cause of the increase in the dropout rate? Pages 20-22 Chapter 1 (Cases of Violation of Rights and Denial of Citizens’ Obligations) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban PPKN Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Tugas Kelompok 1.1 Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah? Halaman 20-22 Bab 1 (Kasus-Kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban Warga Negara) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

Tugas Kelompok 1.1

Bacalah berita di bawah ini bersama teman sebangkumu.

Tingginya Angka Putus Sekolah Jadi Kendala Wajib Belajar 12 Tahun

Indonesia memiliki program Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun. Program ini mewajibkan anak bangsa bisa melanjutkan sekolah hingga SMA atau SMK. Pemerintah melalui Kemendikbud juga telah meluncurkan program ini pada tahun pelajaran 2015/2016.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad menyatakan untuk mencapai program Wajar 12 Tahun memang tidak mudah. Menurut dia, salah satu kendala yang dihadapi adalah tingginya angka putus sekolah di tingkat sekolah menengah.

Hamid mengungkapkan, sebanyak delapan persen anak Indonesia yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah pertama (SMP). Namun, sejumlah siswa itu malah tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke tingkat selanjutnya.

Menurut Hamid, penyebab munculnya angka itu memiliki banyak faktor. Pertama, kata dia, terkait dengan masalah kesejahteraan keluarga.

Selain itu, Hamid menjelaskan, rendahnya harapan siswa dan orang tua juga menjadi salah satu faktor kuat penyebab putusnya sekolah. Mereka, lanjut dia, memiliki harapan kecil terhadap efektivitas sekolah dalam meningkatkan kesempatan bekerja.

Kebanyakan anak dan orang tua di Indonesia, Hamid mengungkapkan, mereka lebih berpikir bahwa pendidikan tidak memiliki relevansi dan manfaat yang kuat baginya.

Oleh karena itu, para orangtua pun tidak menyekolahkan anak mereka. Mereka lebih memilih anaknya untuk bekerja daripada melanjutkan sekolah.

“Kondisi seperti ini jelas tidak mudah,” ujar Hamid kepada wartawan di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (25/9/2015).

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/09/26/

Setelah membaca kasus di atas diskusikanlah dengan teman sebangkumu pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

1. Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah?

Faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah sebab kebanyakan siswa berhenti sekolah biasanya karena tidak memiliki biaya sekolah atau harus mencari uang.

Putus sekolah umumnya adalah karena faktor ekonomi. Anak akan meninggalkan sekolah ketika tidak mampu membayar uang sekolah, atau tidak mampu membeli perlengkapan sekolah seperti buku, tas atau seragam.

Selain itu, anak dari kalangan miskin sering juga harus membantu orang tua mencari uang dan makan. Akibatnya mereka akan meninggalkan bangu sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya.

Maka bisa kita simpulkan jika faktor utama ekonomi memang dianggap sebagai penyebab utama karena tidak adanya biaya dan menyebabkan anak tak bersekolah.

2. Apabila dikaitkan dengan Pancasila, kasus tersebut merupakan ketidaksesuaian dari sila keberapa? Berikan alasannya!

Apabila dikaitkan dengan Pancasila, kasus tersebut merupakan ketidaksesuaian dari sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Alasan mengapa kasus rendahnya bayar pajak tergolong dalam ketidaksesuaian sila ke-5, sebab kita tahu bawa yang dimaksud “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” yaitu bahwa seluruh Rakyat RI dapat merasakan Persamaan fasilitas negara baik dalam hal infrastruktur, persamaan kualitas pendidikan, persamaan harga, persamaan kesejahteraan, dsb.

Dengan tidak adanya kesadaran untuk membayar Pajak, maka Negara Indonesia akan sulit untuk menciptakan persamaan di semua lini masyarakat Indonesia. Maka dari itu, mengapa kasus di atas merupakan ketidaksesuaian dari sila ke-5, sebab dengan tidak adanya kesadaran membayar pajak, maka keadilan dalam berpendidikan, infrastruktur, kesejahteraan, dsb tidak akan tercapai.

3. Adakah faktor lain selain faktor ekonomi yang menjadi penyebab meningkatnya angka putus sekolah? Apabila ada, apa saja faktor tersebut?

Faktor Internal :

  • Faktor yang datangnya berasal dari diri anak itu sendiri

Seperti anak yang malas berangkat sekolah karena tidak memiliki minat dalam pendidikan. Hal ini karena faktor lingkungan yang mempengaruhi anak tersebut, misalnya saja karena malas belajar karena kebanyakan main game dan menonton tv, desakan pergaulan, pola pikir anak yang menganggap pendidikan tidak penting kemudian rasa minder karena anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan kesenjangan ekonomi kemudian keadaan lingkungan sperti keluarganya yang kurang memotivasi anak untuk sekolah yang menjadi penyebab anak enggan ke sekolah.

  • Adanya pengaruh yang berasal dari teman

Sehingga dirinya merasa ingin dan ikut-ikutan apabila diajak untuk bermain, seperti bermain PlayStation atau Game Online di Warung Internet, hingga akhirnya sering membolos dan tak ingin berangkat sekolah. Hal ini menjadi penyebab tidak naik kelas, prestasi di sekolah menurun dan malu untuk pergi kembali ke sekolah.

  • Kelainan fisik maupun mental

Angka putus sekolah dikarenakan faktor ini tidak sebanyak faktor-faktor lain, karena sudah adanya sekolah yang dikhususkan untuk anak kelainan fisik maupun mental yaitu Sekolah Luar Biasa. Namun jika menengok ke lapangan masih ada anak yang putus sekolah atau tidak bisa bersekolah dikarenakan fakor ini.

  • Anak yang terkena sanksi karena mangkir dari sekolah, sehingga terkena drop out (DO).

Faktor Eksternal

  • Keadaan status ekonomi keluarga

Ekonomi yang kurang mencukupi atau kurang mumpuni memang bukanlah menjadi hal yang tabu dan tidak ganjil lagi bagi masyarakat. Jika ekonomi di keluarga serba kekurangan, maka lebih memilih untuk tidak meyekolahkan anaknya karena mengingat biaya sekolah yang begitu mahal.

  • Kurangnya perhatian dari orang tua

Perhatian memang begitu dibutuhkan oleh anak dalam menunjang kehidupan dan pendidikan sehingga anak menjadi lebih semangat dan termotivasi. Perhatian yang kurang akan sekolah, bisa menjadikan anak tersebut tak tertarik sama sekali dengan sekolah.

  • Hubungan orang tua yang kurang harmonis

Terkadang, dalam suatu hubungan di lingkungan keluarga begitu terasa kurang harmonis, banyak sekali contohnya hubungan yang kurang harmonis yang terjadi antara anak dan orang tua sehingga muncul kasus-kasus yang bermasalah bahkan hingga terjadi tragedi yang mengerikan seperti adanya penyiksaan, penggertakan yang memang sama sekali tak pantas apabila diterapkan di dalam lingkup keluarga.

  • Pemaksaan hak oleh orang tua

Pendidikan merupakan kewajiban dari orang tua, namun kadang ada orang tua yang mengatur pendidikan yang dipilih dari anaknya dan sering bersifat memaksa. Pendidikan yang dipilih orang tua selalu dianggap terbaik untuk mereka, walaupun keinginan, minat dan bakat, dan kemampuan dari si anak tidak sesuai. Anak yang terpaksa menuruti pendidikan dari orang tuanya yang tidak sesuai dengan keinginanya akan berpengaruh pada psikologisnya. Dalam belajar anak tersebut akan cenderung bertele-tele dan asal-asalan dalam menimba ilmu di sekolah, kemudian mengakibatkan nilai dari anak tersebut jelek dan berujung pada putus sekolah.

  • Kurangya prasarana dan fasilitas penunjang pendidikan

Sering kita jumpai dalam media massa pemberitaan tentang anak-anak yang bersekolah di bawah jembatan, tidak adanya transportasi untuk pergi ke sekolah sampai ada yang rela berjalan jauh melewati hutan  hanya demi mengenyam sebuah pendidikan. Dalam pedesaan atau daerah terpencil belum semua anak bisa menikmati pendidikan di sekolah, para pendidik, transportasi dan gedung sekolah yang memadai dan yang dibutukan pun belum bisa dipenuhi oleh pemerintah untuk mereka. Karena lingkungan atau tempatnya yang sulit dijangkau sehingga masih banyak dari mereka yang belum menyentuh pendidikan formal. Dalam pembelajaran yang efektif diperlukan fasilitas-fasilitas penunjang yang memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut berupa alat tulis, buku pelajaran, serta perangkat-perangkat pendukung pembelajaran lainya yang memadai. Kurangnya fasilitas penunjang tersebut akan mengakibatkan minat anak untuk belajar turum, sehingga berpotensi untuk putus sekolah.

  • Pola pikir masyarakat

Masyarakat yang tradisional atau masyarakat yang hidup dipedesaan mempunyai pola pikir yang mengaggap pendidikan merupakan hal yang tidak penting, mereka berpikir buat apa sekolah tinggi tapi kalau hanya menjadi pengangguran atau ujung-ujungnya hanya berladang membantu kedua orang tuanya atau menangkap ikan dilaut. Mereka berpikir bahwa pendidikan di sekolah hanya membuang-buang waktu, uang dan termasuk kegiatan yang tidak berguna serta tanpa pendidikan pun pasti bisa hidup layak. Ada juga sebagian masyarakat yang memandang perempuan tidak berhak sekolah, karena kaum perempuan hanya burujung menjadi ibu rumah tangga. Bahkan ada sebagian masyarakat pedesaan yang memilih menikahkan anaknya di usia muda, sehingga kedudukan pendidikan dalam kehidupanya hanya sebagai pelengkap.

4. Pada saat ini, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi permasalahan ini, di antaranya dengan memberikan Bantuan Operasional Sekolah, beasiswa, sekolah gratis, dan sebagainya. Menurut Anda, apakah upaya pemerintah tersebut sudah berhasil? Kemukakan indikator keberhasilannya.

Menurut saya sendiri, upaya yang di lakukan oleh pemerintah pada saat ini masih belum optimal. Pemerintah masih belum dapat menjangkau anak-anak bangsa yang ada di seluruh Indonesia ini. walaupun pada beberapa sekolah telah di bebaskan biaya kewajiban untuk membayar sekolah, akan tetapi belum semua siswa dapat merasakan bantuan dari pemerintah itu dan membuat semakin banyaknya angka siswa yang putus sekolah. Selain itu pada kota besar sering kali terjadi kecurangan, siswa atau siswi yang dapat dikategorikan cukup mampu justru mendapatkan bantuan dana dan bebas dari kewajiban biaya sekolah. Ini lah yang perlu pemerintah perhatikan untuk kedepannya.

Selain itu, biaya pendidikan yang cukup mahal dirasakan tidak mampu untuk mereka menyekolahkan anak-anaknya, berbagai bantuan beasiswa seperti BOS dan BSM pun belum cukup membantu. Dalam pedesaan atau daerah terpencil belum semua anak bisa menikmati pendidikan di sekolah, para pendidik, transportasi dan gedung sekolah yang memadai dan yang dibutukan pun belum bisa dipenuhi oleh pemerintah untuk mereka. Karena lingkungan atau tempatnya yang sulit dijangkau sehingga masih banyak dari mereka yang belum menyentuh pendidikan formal. Dalam pembelajaran yang efektif diperlukan fasilitas-fasilitas penunjang yang memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut berupa alat tulis, buku pelajaran, serta perangkat-perangkat pendukung pembelajaran lainya yang memadai.

5. Selain pemerintah, siapa lagi yang bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini? Apa saja peran yang bisa ditampilkannya?

Selain pemerintah yang bertanggung jawab dalam mengatasi masalah ini adalah orang tua dan guru-guru siswa atau siswi itu sendiri. Peran mereka memang begitu penting untuk membangkitkan motivasi anak-anak sehingga minat anak untuk bersekolah tinggi dan menjadi hal yang perlu untuk dilakukan. Terlebih adanya peran dari orang lain yang membantu motivasi dan memberikan semangat, serta dari pribadi diri sendiri yang memang dengan niat penuh akan belajar. Jika anak – anak tidak mendapat bimbingan dan perhatian yang baik, maka akan mempengaruhi minatnya untuk bersekolah.

6. Apa solusi yang Anda ajukan untuk mengatasi masalah ini? Bagaimana strateginya supaya solusi itu berhasil?

  • Memfasilitasi atau memberikan sarana prasarana yang memadai. Seperti yang telah kita ketahui banyak anak-anak yang belum bisa mengenyam pendidikan karena kurangya fasilitas dan sarana yang memadai. Memfasilitasi juga termasuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu, seperti pemerataan pendidikan dengan membangun dan memperbaiki gedung sekolah di daerah-daerah, memberikan transportasi yang lebih memadai, serta memberikan fasilitas penunjang-penunjang kegiatan belajar mengajar ditambah lagi pengadaan seragam sekolah dan buku paket gratis.
  • Sekolah terbuka. Sekolah terbuka merupakan pendidikan formal yang diperuntukan untuk merek yang kurang mampu, karena tidak memungut biaya sepersenpun dan siswanya tidak berseragam. Sekolah ini juga dilengkapi modul untuk mereka belajar, dalam pembelajaranya dengan belajar mandiri dan berkelompok. Lulusan dari sekolah ini juga menerima Surat Tanda Tamat Belajar dan mereka juga mempunyai hak dan kesempatan yang sama seperti sekolah regular.
  • Pemerintah lebih jeli dalam memberikan bantuan dana kepada masyarakat yang benar-benar kurang mampu, sehingga tidak ada penyelewengan dana yang semestinya untuk orang tidak mampu, malah untuk orang yang bisa dibilang mampu. Dalam prinsipnya juga Pemerintah harus mampu mementingkan sekolah, karena anak merupakan aset bangsa di masa mendatang. Tidak hanya fasilitas-fasilitas umum saja, sekolah juga perlu untuk diperhatikan.
  • Pemerintah juga perlu dalam memberikan penyuluhan atau sosialisasi dengan datang langsung ke sekolah-sekolah atau bisa melalui internet menjelaskan betapa pentingnya sekolah itu.

7. Kemukakan bentuk pelanggaran hak warga negara yang pernah terjadi di daerahmu. Bagaimana solusi untuk menyelesaikannya?

Jika membicarakan mengenai daerah sekitar, tidak sedikit bentuk pelanggaran hak warga negara yang terjadi.

Banyak sekali bentuk pelanggaran hal warga negara yang pernah terjadi di lingkungan saya, seperti halnya beberapa teman saya SD telah ada yang menikah dini, lalu ada yang bekerja sebelum lulus SMP, ada yang tidak taman sekolah karena pergaulan bebas dan lain-lain seperti megkonsumsi narkotika. Untuk megatasi atau solusi penyelesaiannya menurut saya ini bukanlah hal yang mudah, perlu sering adanya bimbingan atau penyuluhan kepada masyarakat sekitar agar masyarakat semakin sadar dan tahu akan arti penting pendidikan bagi anak bangsa.

Misal, anak-anak memang sudah sepantasnya untuk sekolah, diberikan hak untuk sekolah, akan tetapi malah hak tersebut diselewengkan, contohnya masih remaja malah menikah dini, adanya pergaulan bebas yang sangat merugikan bagi anak-anak, serta bisa mengonsumsi narkoba bahkan merokok.

Untuk mengatasi hal tersebut, bisa dengan mencari akar-akar penyebabnya, lalu diselesaikan hingga akarnya ditemukan, dan pentingnya bimbingan dari semua orang dan membatasi internet dengan selalu menjaga anak-anak supaya menggunakan dengan hal positif.

Mengingat internet banyak informasi yang bukan seharusnya, yang bisa diakses siapapun, tanpa batasan usia, nah itulah peran orang tua untuk mendampingi dan meluruskannya.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban PPKN Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Tugas Kelompok 1.1 Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah? Halaman 20-22 Bab 1 (Kasus-Kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban Warga Negara)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban PPKN Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Tugas Kelompok 1.1 Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah? Halaman 20-22 Bab 1 (Kasus-Kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban Warga Negara). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Dalam tabel informasi nilai gizi pada kemasan biskuit yang dimiliki Dian menyatakan bahwa 16 keping biskuit mengandung 24 gram karbohidrat. Dian memakan 12 keping biskuit. Kandungan karbohidrat dalam 12 biskuit?

[Kunci Jawaban] Dalam tabel informasi nilai gizi pada kemasan biskuit yang dimiliki Dian menyatakan bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!