Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah di atas dibuat?

Questions and Answer Keys Indonesian Class 12 Curriculum 2013 Revised 2018 When is the time setting of the story in the quote from the historical novel Gajah Mada Bergelut di Throne and Angkara Pages 40-42 Chapter 2 (Enjoying Historical Stories) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara Halaman 40-42 Bab 2 (Menikmati Cerita Sejarah) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

Tugas

Petunjuk : Bacalah kutipan teks novel sejarah Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara berikut ini. Kemudian kerjakan, tugas-tugas yang menyertainya.

Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara

Cerita macam itu berkembang ke arah salah kaprah. Entah siapakah yang bercerita, kabut tebal itu memang disengaja oleh para dewa di kayangan agar wajah cantik para bidadari yang turun dari kayangan melalui pelangi jangan sampai dipergoki manusia. Para bidadari itu turun untuk memberikan penghormatan kepada satu-satunya wanita di dunia yang terpilih sebagai sang Ardhanareswari, yang berarti wanita utama yang menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa ini. Maklum sebagai sang Ardhanareswari, Ken Dedes adalah titisan dari Pradnya Paramita, dewi ilmu pengetahuan. Apa benar kabut tebal itu turun karena para bidadari turun dari langit? Gajah Mada tidak bisa menyembunyikan senyumnya dari kenangan kakek tua, yang menuturkan cerita itu dan mengaku memergoki para bidadari itu, lalu mengambil salah seorang di antara mereka menjadi istrinya. Gajah Mada ingat, anak kakek tua itu perempuan semua dan jelek semua, sama sekali tidak ada pertanda titisan bidadari.

“Mirip cerita Jaka Tarub saja,” gumam Gajah Mada sekali lagi untuk diri sendiri. “Lagi pula, setahuku tidak pernah ada pelangi di malam hari. Pelangi itu munculnya selalu siang dan ketika sedang turun hujan.”

Lebih jauh soal kabut tebal pula, konon ketika Calon Arang, si perempuan penyihir dari Ghirah marah dan menebar tenung, kabut amat tebal membawa penyakit turun tak hanya di wilayah tertentu. Namun, merata di seluruh negara, menyebabkan Prabu Airlangga dan Patih Narottama kebingungan dan terpaksa minta bantuan kepada Empu Barada untuk meredam sepak terjang wanita menakutkan itu. Empu Barada benar-benar sakti. Empu itu menebas pelepah daun keluwih yang melayang terbang ketika dibacakan japa mantra. Beralaskan pelepah daun itulah Empu Barada terbang membubung ke langit dan memperhatikan seberapa luas kabut pembawa tenung dan penyakit. Empu Barada melihat, ampak-ampak pedhut itu memang sangat luas dan menelan luas negara dari ujung ke ujung. Untunglah cahaya Hyang Bagaskara yang datang di pagi harinya mampu mengusir kabut itu menjauh tanpa tersisa jejaknya sedikit pun.

“Hanya sebuah dongeng,” gumam Gajah Mada untuk diri sendiri. Kabut tebal itu memang mengurangi jarak pandang dan mengganggu siapa pun untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Ketika sebelumnya siapa pun tak sempat memikirkan, itulah saatnya siapa pun mendadak merasakan bagaimana menjadi orang buta yang tidak bisa melihat apa-apa. Pada wilayah yang kabutnya benar-benar tebal, untuk mengenali benda-benda di sekitarnya harus dengan meraba-raba.

Akan tetapi, tidak demikian dengan anjing yang menggonggong sahut- sahutan ramai sekali. Apa yang dilakukan anjing itu laporannya akhirnya sampai ke telinga Gajah Mada. Gajah Einggon yang meminta izin untuk bertemu segera melepas warastra, sanderan dengan ciri-ciri khusus yang dibalas Gajah Mada dengan anak panah yang sama melalui isyarat khusus pula. Dari jawaban anak panah itu Gajah Enggon dan Gagak Bongol mengetahui di mana Gajah Mada berada. Gagak Bongol dan Enggon segera melaporkan temuannya.

“Ditemukan mayat lagi, Kakang Gajah,” Gajah Enggon melaporkan. Gajah Mada memandangi wajah samar-samar di depannya. “Mayat siapa?”

“Prajurit bernama Klabang Gendis mati dengan anak panah menancap tepat di tenggorokannya. Tak ada jejak perkelahian apa pun, sasaran menjadi korban tanpa menyadari arah bidikan anak panah tertuju kepadanya.”

Gajah Mada merasa tak nyaman memperoleh laporan itu. Orang yang mampu melepas anak panah dengan sasaran sulit pastilah orang yang sangat menguasai sifat gendewa dan anak panahnya. Orang yang mampu melakukan hal khusus macam itu amat terbatas dan umumnya ada di barisan pasukan Bhayangkara. Adakah prajurit Bhayangkara yang terlibat?

“Dan kami temukan mayat kedua,” Gagak Bongol menambahkan.

“Pelaku pembunuhan menggunakan anak panah itu mati dipatuk ular.

Mayatnya dicabik-cabik beberapa ekor anjing. Pembunuh yang terbunuh ini, menyisakan jejak rasa kecewa di hati kita, Kakang. Aku tahu, Kakang

“Gajah pasti kecewa mengetahui siapa dia?”

Gajah Mada menengadah memandang langit. Namun, tak ada apa pun yang tampak kecuali warna pedhut yang makin menghitam legam.

“Bhayangkara?”

“Ya,” jawab Gagak Bongol. “Siapa?” lanjut Gajah Mada.

Gagak Bongol dan Senopati Gajah Enggon tidak segera menjawab dan memberikan kesempatan kepada Patih Daha Gajah Mada untuk menemukan sendiri jawabnya. Nama pembunuh yang mati dipatuk ular itu tentu berada di barisan yang tersisa dari nama-nama prajurit Bhayangkara yang pernah dipimpinnya. Nama-nama itu adalah Bhayangkara Lembu Pulung, Panjang Sumprit, Kartika Sinumping, Jayabaya, Pradhabasu, Lembang Laut, Riung Samudra, Gajah Geneng, Gajah Enggon, Macan Liwung, dan Gagak Bongol. Panji Saprang yang berkhianat dan menjadi kaki tangan Rakrian Kuti mati dibunuh Gajah Mada di terowongan bawah tanah ketika pontang-panting menyelamatkan Sri Jayanegara. Bhayangkara Risang Panjer Lawang gugur di Mojoagung, dibunuh dengan cara licik oleh pengkhianat kaki tangan RaKuti. Selanjutnya, Mahisa Kingkin terbunuh oleh Gagak Bongol sebagai

korban fitnah di Hangawiyat. Terakhir, Singa Parepen atau Bango Lumayang yang berkhianat mati dibunuhnya di Bedander ketika kamanungsan sebagai pengkhianat.

(Sumber: Gojah Mada Bergelut dalam Kernelut Takhta dan Angkara karya Langit Kresna Hariadi, halaman 109- 111).

Setelah membaca kutipan novel tersebut, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1. Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah di atas dibuat?

Novel Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara merupakan salah satu novel dalam dunia sastra Indonesia. Novel sendiri dapat dikatakan sebagai bagian dari karya sastra baru. Kata novel berasal dari Bahasa Perancis yang berarti baru. Selain itu, novel juga biasanya tidak terikat dengan beberapa aturan yang biasanya mengikat karya sastra lama, mulai dari gaya bahasa, rima, serta yang lainnya. Namun, sudah pasti ada unsur intrinsik dan ekstrinsik seperti yang dapat kita temukan pada semua karya sastra.

Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk menyebutkan latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara. Berikut saya akan mencoba menjawab pertanyaan kali ini.

Latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah “Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara” dibuat pada masa Kerajaan Majapahit selepas meninggalnya Raja Jayanegara.

2. Di manakah latar dalam kutipan novel sejarah tersebut dibuat?

Latar merupakan salah satu unsur intrinsik yang dapat kita temukan dalam suatu karya sastra. Pada umumnya, terdapat 2 latar dalam karya sastra. keduanya adalah latar waktu dan tempat. Latar waktu dapat diartikan sebagai saat terjadinya momen tertentu atau seluruh cerita yang disampaikan dalam karya sastra tersebut. Sementara itu latar tempat merupakan lokasi terjadinya momen tertentu atau cerita tersebut secara keseluruhan. Jika latar tempat dapat dikenali berkat penggunaan kata keterangan tempat, maka latar waktu dapat dikenali berkat penggunaan kata keterangan waktu.

Pada kesempatan ini, soal menyajikan kita dengan salah satu judul novel sejarah, Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara. Kemudian, kita diminta untuk menentukan latar tempat dalam kutipan novel tersebut. Berikut saya akan mencoba menjawa pertanyaan kali ini.

Latar tempat dalam kutipan novel sejarah “Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara” adalah di Kerajaan Majapahit

3. Peristiwa apa sajakah yang dikisahkan?

Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dalam Angkara merupakan salah satu novel yang menghiasi dunia sastra Indonesia. Novel ini dikarang oleh Langit Kresna Hariadi. Sebagai salah satu bagian dari dunia sastra Indonesia, novel memang mampu menarik minat dari berbagai kalangan. Hal ini tidak terlepas dari topik kekinian yang kerap diusung dalam novel. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan pun kerap disesuaikan dengan masa kini. Inilah sebabnya karya sastra ini dinamakan novel yang berarti baru dalam Bahasa Perancis.

Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk menyebutkan peristiwa yang dikisahkan dalam novel tersebut. Berikut saya akan mencoba menjawab pertanyaan kali ini.

Peristiwa yang dikisahkan dalam cerita Gajah Mada Bergelur dalam Takhta dalam Angkara adalah pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Majapahit setelah Raja Jayanegara mangkat. Pada akhirnya, pemberontakan ini berhasil dihentikan oleh pihak kerajaan setelah Pasukan Bhayangkara yang berada di bawah kepemimpinan Gajah Mada berhasil meluluhlantakkan para pemberontak.

4. Siapa sajakah tokoh yang terlibat dalam penceritaan?

Tokoh merupakan salah satu unsur instrinsik yang dapat kita temukan dalam karya sastra. Bersama dengan unsur ekstrinsik, unsur intrinsik membangun karya sastra. Unsur intrinsik  dapat diartikan sebagai unsur yang berasal dari dalam karya sastra. Beberapa unsur yangtergolong unsur intrinsik antara lain meliputi tokoh, penokohan, alur, tema, latar,  amanat, rima,dan gaya bahasa. Sementara itu, unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berasal dari luarkarya sastra.

Pada kesempatan ini, soal menyajikan kita dengan satu judul novel, Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara. Kemudian, kita diminta untuk menentukan tokoh yang terlibat dalam novel tersebut. Berikut saya akan mencoba menjawab pertanyaan kali ini.

Tokoh yang terlibat dalam novel Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara adalah Raja Jayanegara, Pasukan Bhayangkara, Gajah Mada, Raden Cakradara, RadenKudamerta, Ra Tanca, Raden Wijaya, Raja Kertanegara, Lembu Tal, Mahisa Cempaka, Ranggamuni, tentara Mongol, Kubilai Khan, dan Rakuti.

5. Di bagian apa sajakah yang menandakan bahwa novel tersebut tergolong ke dalam novel sejarah?

Di bagian Gajah Mada mempersatukan nusantara, Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan Kuti.

Diskusikanlah hasil kerja dengan teman satu kelompokmu. Untuk memperdalam jawaban-jawabanmu, bersama tim kelompok menelusuri lebih jauh mengenai kebenaran dari segi fakta dengan membaca buku-buku sejarah.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara Halaman 40-42 Bab 2 (Menikmati Cerita Sejarah)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah Gajah Mada Bergelut dalam Takhta dan Angkara Halaman 40-42 Bab 2 (Menikmati Cerita Sejarah). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

Kata Kunci:

  • https://laguasyik com/kapankah-latar-waktu-cerita-dalam-kutipan-novel-sejarah-di-atas-dibuat/

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya?

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya? Pertanyaan: 3. Kalor lebur es …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!