Dari pernyataan-pernyataan tersebut, pernyataan yang termasuk ke dalam asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam ialah

Questions and Answer Keys for Islamic Religious Education and Morals for Class 11 Curriculum 2013 Revised 2017 Evaluation By looking at the expression, which includes the conditions for sellers and buyers, are Pages 154-156 Chapter 9 (Principles and Practices of Islamic Economics) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 Evaluasi Dengan melihat ungkapan tersebut yang, termasuk syarat-syarat bagi penjual dan pembeli ialah Halaman 154-156 Bab 9 (Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

Evaluasi

Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling tepat!

1. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut:

  1. Setiap transaksi pada dasarnya mengikat orang (pihak) yang melakukan transaksi itu.
  2. Ketentuan-ketentuan dalam transaksi, boleh menyimpang dari aturan syariat.
  3. Setiap transaksi harus dilakukan secara sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun.
  4. Setiap transaksi hendaknya dilandasi dengan niat baik dan ikhlas karena Allah Swt. semata.
  5. Transaksi ekonomi antara umat Islam dan umat bukan Islam dibolehkan walaupun menyimpang dari syariat.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut, pernyataan yang termasuk ke dalam asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam ialah . . . .

A. 1, 2, dan 3

B. 3, 4, dan 5

C. 2, 4, dan 5

D. 2, 3, dan 4

E. 1, 3, dan 4

Jawaban : E. 1, 3, dan 4

Penjelasan : Asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam adalah

Setiap transaksi pada dasarnya mengikat orang (pihak) yang melakukan transaksi itu.

Ketentuan-ketentuan dalam transaksi tidak boleh menyimpang dari aturan syariat.

Setiap transaksi harus dilakukan secara sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun.

Setiap transaksi hendaknya dilandasi dengan niat baik dan ikhlas karena Allah Swt. semata.

Transaksi ekonomi antara umat Islam dan umat bukan Islam dibolehkan asal sesuai dengan syariat muamalah.

Muamalah adalah kegiatan tukar-menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditempuhnya, seperti jual-beli, sewa-menyewa, utang-piutang, pinjam-meminjam, urusan bercocok tanam, berserikat, dan usaha lainnya.

Muamalah diatur oleh asas-asas ekonomi Islam yang bertujuan agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Jadi, jawaban yang benar adalah 1, 3, dan 4.

2. Perhatikan ungkapan-ungkapan berikut:

  1. Berakal
  2. Berilmu
  3. Ballig
  4. Berhak menggunakan hartanya
  5. Dapat melihat

Dengan melihat ungkapan tersebut yang, termasuk syarat-syarat bagi penjual dan pembeli ialah . . . 

A. 1, 2, dan 3

B. 1, 3, dan 4

C. 1, 3, 4, dan 5

D. 2, 3, dan 4

E. 2, 4, dan 5

Jawaban : B. 1, 3, dan 4

Penjelasan : Syarat-syarat bagi penjual dan pembeli adalah

  • Ballig atau dewasa
  • Berakal sehat
  • Atas kehendak sendiri

Jadi, jawaban yang benar adalah 1, 3, dan 4.

3. Contoh jual-beli yang batil ialah . . . .

A. penjual dan pembeli tidak berada dalam satu tempat.

B. penjual dan pembeli tidak mengucapkan ijab kabul.

C. nilai tukar barang yang dijual menggunakan kartu kredit.

D. nilai tukar bukan berupa uang, tetapi berupa barang.

E. jual-beli minuman keras (khamr).

Jawaban : E. Jual beli minuman keras

Penjelasan : Karena minuman keras adalah barang yang haram untuk diperjualbelikan.

4. Hal yang tidak termasuk rukun mudarabah ialah . . . .

A. Sahibul mal dan mudarrib syaratnya baligh, berakal sehat, dan jujur

B. jenis usaha dan tempatnya sebaiknya disepakati bersama.

C. besarnya keuntungan bagi Sahibul mal dan mu«arrib hendaknya sesuai dengan kesepakatan bersama pada waktu akad.

D. kerugian dalam waktu berusaha ditanggung oleh mudarrib.

E. mudarrib hendaknya bersikap jujur tidak boleh menggunakan modal untuk kepentingan sendiri dan orang lain tanpa seizin Sahibul mal.

Jawaban : D. kerugian dalam waktu berusaha ditanggung oleh mudarrib.

Penjelasan : Mudharabah adalah memberikan modal kepada seseorang agar dikelola oleh orang tersebut dengan untung rugi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak,

Rukun mudharabah adalah:

  • Muqrid atau pemilik modal dan mudarrib atau yang menjalankan modal, sebaiknya baliq atau dewasa, berakal sehat dan jujur.
  • Uang atau barang yang dijadikan modal harus diketahui jumlahnya.
  • Jenis usaha dan tempatnya hendaknya disepakati bersama.
  • Besarnya keuntungan bagi masing-masing pihak, sebaiknya sesuai dengan kesepakatan pada waktu akad.
  • Mudarrib sebaiknya bersikap amanah atau jujur.

Jadi, hal yang tidak termasuk rukun mudarabah,yaitu kerugian dalam waktu berusaha di tanggung oleh mudarrib (B). Karena, perhitungan kerugian ditanggung oleh kedua pihak pada akhir pengembalian modal.

5. Ulama fiqh sepakat bahwa asuransi dibolehkan asal cara kerjanya Islami, kecuali . . . .

A. ditegakkannya prinsip keadilan

B. dihilangkannya unsur untung-untungan/maisir

C. tidak ada perampasan hak dan kezaliman

D. bersih dari unsur riba

E. para karyawan perusahaan asuransi harus orang Islam

Jawaban : A. ditegakkannya prinsip keadilan

Penjelasan : Asuransi menurut Islam artinya adalah pertanggungan dan diperbolehkan apabila sesuai dengan ajaran Islam, yaitu

  • Menegakkan prinsip keadilan
  • Menghilangkannya unsur maisir atau untung-untungan
  • Tidak ada unsur perampasan hak dan kezaliman
  • Bersih dari riba

Jadi, ulama fiqh sepakat bahwa asuransi di bolehkan asal cara kerja-nya islami, kecuali para karyawan perusahaan asuransi harus orang islam (A)

B. Jawablah soal-soal berikut dengan benar dan tepat!

1. Sebutkan lima macam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang tidak halal merugikan orang lain!

5 macam usaha yang bertujuan memenuhi kebutuhan dengan cara yang adalah tidak halal dan merugikan orang lain sebagai berikut :

  • Mencuri
  • Menipu
  • Riba
  • Korupso
  • Menjual barang haram

Contoh usaha tersebut seperti yang disebutkan di atas. Mencuri misalnya, adalah perbuatan yang tak hanya melanggar agama tetapi juga melanggar hukum sehingga bukan sekedar tidak halal saja melainkan juga tindakan criminal yang sudah tentu merugikan orang lain.

Usaha tidak halal lainnya adalah riba. Boleh jadi riba tidak melanggar hukum tetapi sudah jelas melanggar syariat sebab merugikan orang lain. Contoh riba adalah misalnya menjual barang dengan sistem kredit lalu menambahkan sekian persen keutungan dari harga jual yang sebenarnya.

Usaha lainnya yang juga tidak halal adalah menjual komoditas yang statusnya haram, misalnya minuman keras, barang curian dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam islam semua sudah memiliki batasan-batasan yang jelas dan tegas termasuk dalam hal ekonomi.

2. Kemukakan usaha-usaha yang harus dilakukan agar setiap kegiatan transaksi ekonomi itu bernilai ibadah!

Yang dimana pertanyaan kemukakan usaha usaha yg harus dilakukan agar setiap kegiatan transaksi ekonomi itu bernilai ibadah telah melewati proses pengkajian untuk menemukan jawaban paling benar dan akurat.

Jadi anda jangan meragukan lagi jawaban dari pertanyaan kemukakan usaha usaha yg harus dilakukan agar setiap kegiatan transaksi ekonomi itu bernilai ibadah yang kami publikasikan.

Misalnya seperti :

  • Kegiatan ekonomi itu haruslah kegiatan yang halal atau diperbolehkan dalam agama
  • Dimulai dengan basmalah
  • Diakhiri dengan hamdalah
  • Kegiatan tersebut haruslah dengan niat atau tujuan yang baik
  • Jujur
  • Adil
  • harus di sertai dengan syariat agama
  • Tidak ada kecurangan dalam segala kegiatan usaha
  • Tidak membohongi konsumen
  • Slalu berikhtiar
  • Mencoba untuk ikhlas

3. Sebutkan tiga contoh jual-beli yang dianggap batil!

  • Bai’ Ma’dum

Setiap bentuk-bentuk jual beli yang tidak ada barangnya adalah bai’ ma’dum. Transaksi ini mengandung unsur ketidakjelasan. Sehingga merupakan jual beli batil.

Salah satu contoh jual beli batil ialah transaksi bai’ ma’dum adalah jual beli anak ternak yang masih didalam kandungan dan buah-buahan yang masih berada di pohonnya.

  • Bai’ Ma’jus Taslim

Salah satu syarat barang yang diperjual belikan adalah barang tersebut dapat diserahterimakan.

Oleh karena itu, menjual barang yang mustahil atau tidak dapat diserahterimakan (bai’ Ma’jus Taslim) merupakan contoh jual beli yang batil.

Sehingga, jual beli burung yang sedang terbang, atau burung yang terlepas dari sarangnya, dan transaksi-transaksi lain yang sejenis adalah tidak sah.

  • Jual beli Gharar

Pengertian jual beli gharar adalah transaksi jual beli yang tidak diketahui rupa, takaran dan sifat barangnya.

Sehingga pada transaksi gharar seringkali terjadi spekulasi untung-untungan dari pihak yang berakad.

Contoh jual beli gharar sederhana adalah transaksi jual beli ikan yang ada di dalam kolam.

Sebab, pada contoh jual beli batil ini pertukaran uang dan barang antara penjual dan pembeli tidak ada takaran yang jelas. Sehingga berpotensi merugikan pihak pembeli maupun penjual

  • Jual beli hutang

Hutang tidak termasuk kedalam jenis barang yang boleh diperjual belikan dalam islam. Karena itulah, transaksi jual beli dengan objek transaksi berupa hutang (bai’ dayn)  tidak dibenarkan dalam Islam.

Contoh jual beli batil ini adalah seseorang menjual 20 Kg beras yang dipinjam oleh temannya, kepada orang lain.

  • Jual beli barang najis

Jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli barang yang najis maupun barang halal yang terkena najis termasuk jual beli batil dan terlarang. Misal, jual beli bangkai, babi dan darah.

4. Kemukakan alasan (dalil) naqli dan aqli-nya bahwa jual-beli yang mengandung unsur kecurangan itu hukumnya haram!

Dalil Naqli yang diambil dari Al-Qur’an

Surat Al-Muthoffifin ayat 1 sampai 3

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ 

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

الَّذِيْنَ إِذَا اكْتَالُوا۟ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan

وَإِذَا كَالُوْهُمْ أَو وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ

dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

Hadis tentang Larangan Mengicuh/Menipu dalam Jual Beli

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي (روه مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim No.102 ).

Pemahaman Hadis : Ketika Rasulullah melewati sebuah pasar, beliau mendapatkan penjual makanan yang menumpuk bahan makanannya. Bisa jadi seperti tumpukan biji-bijian, ada yang di atas ada yang di bawah. Bahan makanan yang di atas tampak bagus, tidak ada cacat/rusaknya. Namun ketika memasukkan jari-jemari beliau ke dalam tumpukan bahan makanan tersebut, beliau dapatkan ada yang basah karena kehujanan (yang berarti bahan makanan itu ada yang cacat/rusak). Penjualnya meletakkannya di bagian bawah agar hanya bagian yang bagus yang dilihat pembeli. Rasulullah pun menegur perbuatan tersebut dan mengecam demikian kerasnya. Karena hal ini berarti menipu pembeli, yang akan menyangka bahwa seluruh bahan makananan itu bagus.Seharusnya seorang mukmin menerangkan keadaan barang yang akan dijualnya, terlebih lagi apabila barang tersebut memiliki cacat ataupun aib.

Syarih berkata : hadis di atas menunjukkan harmnya menyembunyikan cacat dan wajibnya menerangkan cacat itu kepada pembeli. Perkataan “maka dia bukan termasuk dari golongan kami” menunjukkan haramnya menipu dan itu telah menjadi ijma’ ulama.[1]

Adapun dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Nasai no 4429 :

 أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّجْشِ

“melarang dari menawar barang untuk mengecoh pembeli yang lain” [HR.Nasai No.4429]

Penjelasan hadits : Bahwasannya Rasulullah Saw. melarang kita untuk menawar barang untuk mengecoh pembeli yang lain, maksudnya adalah menawar yang dimaksud bukan untuk membeli tetapi mempengaruhi pembeli yang lain supaya pembeli itu membeli barang tersebut dengan harga tinggi yang ditawarkannya. Orang yang tidak berminat untuk membeli dan tidak tertarik hendaknya tidak ikut campur dan tidak menaikkan harga. Biarkan para pengunjung (pembeli) yang berminat untuk tawar menawar sesuai harga yang diinginkan. Sedangkan dalam hadits ini jelas dilarang, dimana ada perhitungan untuk menguntungkan penjual ataupun adanya kesepakatan antara si penjual dengan beberapa kawannya untuk menaikkan harga barang. Harapannya agar pembeli yang datang menawar dengan harga yang lebih tinggi, tentunya ini haram karena ada unsur penipuan dan mengambil harta dengan cara batil.

Ini dilarang karena yang pertama perbuatan ini perbuatan menipu yang memang dilarang dalam Islam, yang kedua karena dapat menimbulkan harga dari barang tersebut tidak stabil, karena semisal barang tersebut harganya hanya Rp 15.000,- tetapi karena terkecoh harga justru menjadi Rp 20.000,- atau bahkan 30.000,- yang berarti 2x lipatnya ini tentunya akan merusak harga pasar. Apalagi seharusnya sisa dari uang tersebut dapat digunakan untuk membeli kebutuhan lain justru hilang. Dan yang akan ditimbulkan selanjutnya adalah apabila si pembeli asli mengetahui harga sebenarnya maka akan menimbulkan kekecewaan dan ketidak percayaan terhadap penjual atau bahkan memberitahukan kepada pembeli lain untuk tidak berbelanja atau membeli di tempat penjual tersebut yang pada akhirnya si penjual justru akan kehilangan pelanggan lainnya.[2]

Adapun dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh HR. Muslim :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي (روه مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim ).

5. Kemukakan perbedaan antara perbankan konvensional dan perbankan syri’ah!

  • Fungsi dan Kegiatan Bank

Dalam menjalankan kegiatannya, bank konvensional berfungsi menyediakan jasa keuangan dan sebagai intermediasi. Sementara itu, untuk bank syariah, selain menjadi intermediasi, jenis bank yang satu ini juga memiliki fungsi sebagai manajer investasi, investor sosial, dan tentu saja penyedia layanan keuangan.

  • Prinsip Dasar

Pada kegiatan usaha, pastinya ada prinsip dasar yang menjadi pegangan dalam menjalankan roda kegiatan. Begitu pula yang terjadi baik pada bank konvensional maupun bank syariah.

Prinsip pertama menyangkut nilai. Bank konvensional berprinsip bebas nilai, sedangkan bank syariah menjunjung prinsip syariah Islam yang menyatakan tidak ada pembebasan nilai.

Prinsip kedua yaitu mengenai pandangan terhadap uang. Bank konvensional melihat uang sebagai komoditas. Artinya, uang dipandang sebagai barang yang dapat diperjual-belikan. Sementara itu, bank syariah memandang uang sebagai alat tukar. Jadi, dalam bank syariah, uang tidak dapat diperjual-belikan, namun dapat ditukarkan kepada bentuk lain sesuai kebutuhan.

Prinsip ketiga menyangkut tentang pertumbuhan dana yang disimpan nasabah  di kedua jenis bank tersebut. Di bank konvensional, uang akan bertumbuh dengan adanya pemberian bunga yang didapat dari pengelolaan pihak bank. Namun, bank syariah menolak sistem bunga tersebut, Untuk menumbuhkan uang nasabahnya, bank ini menerapkan sistem bagi hasil.

  • Sumber Likuiditas Jangka Pendek

Kedua jenis bank ini sama-sama memperoleh likuiditasnya dari dua sumber, yakni pasar uang dan bank sentral. Di Indonesia, yang dimaksud dengan bank sentral adalah Bank Indonesia. Hal yang membedakan antara likuiditas bank konvensional dengan bank syariah terletak di pasar uang. Likuiditas bank konvensional dari pasar uang bebas didapatkan dari emiten mana saja. Sementara itu, bank syariah hanya mengambil sumber dari pasar uang yang menerapkan prinsip-prinsip syariah.

  • Risiko Usaha

Mengenai  risiko usaha, bank syariah menerapkan poin “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” antara bank dan nasabah. Hal ini membuat semua hal yang terjadi ditanggung secara bersama-sama, baik berupa keuntungan maupun kerugian.

Sementara itu pada bank konvensional biasa, pihak bank tidak berurusan dengan risiko yang mungkin dihadapi nasabahnya. Pihak nasabah juga tidak perlu memikirkan risiko yang mungkin terjadi kepada bank tempatnya melakukan transaksi keuangan ataupun menyimpan dana.

  • Struktur Pengawas

Agar tidak melenceng dari tujuan dan fungsinya, setiap bank memiliki dewan pengawas yang tersusun dalam struktur organisasi lembaga tersebut. Di bank konvensional, struktur pengawas dijabat oleh dewan komisaris. Namun di bank syariah, Anda akan menemui struktur pengawas yang lebih kompleks, mulai dari dewan komisaris, dewan pengawas syariah, hingga dewan syariah nasional.

  • Sistem Operasional

Pengoperasian bank syariah disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang syariah. Prinsip operasional yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi’ah dan Mudharabah.

Jauh berbeda dengan bank syariah, bank konvensional berdasarkan kepada prinsip sekuler yang terbebas dari nilai-nilai agama. Dengan kata lain aktivitasnya berdiri sendiri, terpisah dari pengaruh agama atau kepercayaan tertentu. Bank konvensional bebas melakukan kegiatan apa saja selama tidak diatur dan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  • Sistem Kelola Dana

Dengan falsafah tidak berdasarkan bunga, bank syariah dari sisi operasional menganggap kalau dana masyarakat berupa titipan investasi yang baru akan mendapatkan hasil jika diusahakan terlebih dahulu. Penyaluran dananya akan dilakukan pada sektor usaha yang halal dan menguntungkan.

Sementara itu dengan falsafah berdasarkan bunga, bank konvensional memandang kalau dana masyarakat berupa simpanan yang harus dibayar bunganya pada saat jatuh tempo Penyaluran pada sektor yang menguntungkan tanpa memperhitungkan halal atau tidak

  • Sistem Pembagian

Sistem pembagian ini dikenal bagi pelaku bank syariah karena tidak beroperasi dengan sistem riba. Pada mekanisme lembaga keuangan syariah atau bagi hasil, pendapatan bagi hasil ini berlaku untuk produk-produk penyertaan, baik penyertaan menyeluruh maupun sebagian–sebagian, atau bentuk bisnis korporasi (kerjasama).

Penentuan besarnya nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada untung dan rugi. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh. Bagi hasil bergantung pada kentungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian di tanggung bersama oleh kedua belah pihak. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

  • Sistem Bunga

Bank konvensional memberlakukan sistem bunga. Penentuan bunga dibuat pada waktu perjanjian dengan asumsi harus selalu untung. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjam.

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan nasabah untung atau rugi. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang dalam kondisi baik.

  • Sistem Denda Keterlambatan

Berdasarkan fatwa DSN-MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran mengatur apabila nasabah tidak bisa membayar dikarenakan force majeur, maka ia tidak boleh dikenakan sanksi. Sanksi dalam bentuk denda bisa diberikan apabila nasabah yang mampu sengaja menunda-nunda pembayaran atau mempunyai itikad tidak baik untuk membayar. Sanksi tersebut dapat berbentuk uang yang besarnya dibuat saat akad ditandatangani.

Sebaliknya bank konvensional memiliki kebijakan bagi nasabah yang default akan dibebankan uang tambahan (bunga). Bunga ini akan berbunga kembali apabila nasabah tidak mampu membayar di waktu berikutnya sehingga tagihan akan semakin membesar jumlah. Hal ini dikenal dengan istilah compound of interest.

  • Dipantau Dewan Pengawas

Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di bank syariah dan  bank konvensional yang memiliki UUS maupun BPRS. Dewan Pengawas Syariah(DPS) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. Dewan Pengawas Syariah bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.

Sangat berbeda dengan bank konvensional yang tidak ada lembaga sejenis dengan Dewan Pengawas Syariah.

  • Dasar Hukum Berlaku

Karena prinsip syariah yang berlaku khusus, landasan hukum bank syariah juga diatur secara khusus. Diantaranya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang diamendemen dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 dan peraturan pelaksanaanya dinyatakan tetap berlaku berlaku selama tidak bertentangan dengan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Di samping UU tersebut, bank syariah juga harus patuh dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh BI / OJK dan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI.

Sementara itu, bank konvensional hanya cukup patuh pada UU Perbankan dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh BI/OJK saja.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 Evaluasi Dengan melihat ungkapan tersebut yang, termasuk syarat-syarat bagi penjual dan pembeli ialah Halaman 154-156 Bab 9 (Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 Evaluasi Dengan melihat ungkapan tersebut yang, termasuk syarat-syarat bagi penjual dan pembeli ialah Halaman 154-156 Bab 9 (Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Berdasarkan Tabel 4.1, jika 1 kg bahan tersebut dipanaskan dengan menggunakan nyala api yang sama, manakah yang paling lambat naik suhunya? Coba jelaskan!

[Kunci Jawaban] Berdasarkan Tabel 4.1, jika 1 kg bahan tersebut dipanaskan dengan menggunakan nyala api …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!