Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu?

ndonesian History Questions and Answer Keys Class 11 2013 Revised Curriculum 2017 TRAINING COMPETENCY TEST In the social context, the Dutch government has implemented discriminatory policies. Please explain and what do you think about the policy Page 175 Chapter 3 (Impacts of the Development of Colonialism and Imperialism) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu Halaman 175 Bab 3 (Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

LATIH UJI KOMPETENSI

1. Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu?

Dalam konteks sosial pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Diskriminasi ini dilakukan dengan stratifikasi penduduk di indonesia.

Menurut pendapat saya diskriminasi ini adalah upaya merupakan upaya mempertahankan kekuasaan Belanda dengan memecahbelah bangsa Indonesia melalui politik adu domba.

Penjajah Belanda melakukan segregasi atau pemisahan etnik dengan membagi-bagi penduduk Hindia Belanda menjadi 3 kelompok sosial yaitu:

  • Orang Eropa, termasuk didalamnya orang Belanda, Inggris dan Eropa lainya. Orang Jepang juga dimasukkan dalam golongan ini oleh pemerintah penjajah meski bukan orang Eropa, karena pengaruh kuat Kekaisaran Jepang waktu itu. Mereka memiliki hak politik besar dan statusnya diistemewakan oleh hukum. Jumlah mereka diantara penduduk Hindia Belanda adalah paling sedikit, hanya sekitar 2% atau 200an ribu jiwa.
  • Orang Timur Asing, atau disebut juga Vreemde Osterlingen, atau Foreign Orientals. Kasta ini adalah orang Hindia Belanda keturunan China, Arab dan India yang merupakan golongan pendatang. Golongan ini berstatus dibawah orang Eropa, tapi masuh dianggap di atas golongan paling bawah yaitu orang Pribumi.
  • Orang Pribumi, atau Inlander, merupakan penduduk asli Hindia Belanda, yang termasuk semua suku bangsa asli seperti orang Jawa, Sunda, Melayu, dan sebagainya. Golongan ini dibatasi sekali secara hukum, misalnya tidak boleh sekolah di sekolah khusus Eropa atau menduduki jabatan tertentu. Hanya orang pribumi dari kalangan bangsawan atau ningrat yang derajatnya dianggap tinggi oleh orang Eropa, dan bisa sekolah hingga tinggi.

Ketiga golongan ini hidup dipisah, mereka sekolah di tempat berbeda, mendapat penghormatan berbeda, dan menghadapi proses hukup berbeda.

Segregasi ini merupakan kebijakan devide et impera atau memecah belah untuk menguasai seluruh Hindia Belanda.

2. Dalam mengendalikan dan memaksa rakyat, para penguasa Belanda memanfaatkan kultur feodal yang telah ada. Coba jelaskan, dan mengapa Belanda menggunakan kultur itu?

Dalam mengendalikan dan memaksa rakyat, para penguasa Belanda memanfaatkan kultur feodal yang telah ada. Beberapa hal mengapa Belanda menggunakan kultur itu adalah:

Belanda lebih mudah mengontrol masyarakat dengan mempertahankan penguasa-penguasa lokal setempat yang bisa diajak kerjasama sebagai penguasa boneka, dan membuang penguasa yg tidak mau bekerjasama.

Belanda lebih mudah di dalam menguasai kerajaan dengan memanfaatkan sistem feodal baik itu membujuk,  merayu, menyuap atau mengancam penguasa kerajaan dan kesultanan tradisional di Indonesia. Sama dengan sistem yang pertama, bagi yang mau bekerja sama dengan belanda, akan diberikan kekuasaan dan kekayaan, namun yang menentang akan digulingkan.

Feodalisme merupakan sebuah sistem sosial atau sistem politik yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan. Sistem ini mengkotak-kotakan status sosial yang ada pada masa Hindia Belanda. Feodalisme pada masa itu terdiiri dari beberapa golongan. Di antaranya adalah:

  • Wong Gede
  • Bangsawan
  • Priyayi Ambtenaar
  • Wong cilik

Feodalisme sangat mengagung-agungkan kekuasaan sang raja atau penguasa di dalam suatu kerajaan. Dengan mengontrol dan membujuk penguasa, Belanda dapat melakukan kepentingannya di daerah kolonial dengan mudah, sehinga mampu menjadikan daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaannya. Posisi raja atau sultan hanyalah sebagai penguasa boneka. Kemudahan di dalam mengontrol raja dan membujuk para penguasa menjadi alasan mengapa kultur feodal dimanfaatkan sekali pada masa itu.

3. Buktikan bahwa Raffles sangat memperhatikan bidang ilmu pengetahuan, sejarah, dan budaya di Indonesia

Pemerintah kolonial Inggris menduduki Indonesia pada tahun 1811 hingga tahun 1815. Pendudukan Inggris ini seiring dengan invasi dan kemenangan Inggris atas Hindia Belanda (nama Indonesia saat itu). 

Gubernur Jenderal Inggris di India Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound, Earl Minto (biasa dikenal dengan nama Baron Minto) menunjuk Sir Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa Indonesia dengan gelar “Letnan Gubernur”.

Sebagai pemimpin pendudukan Inggris di Indonesia, Raffles mengambil beberapa kebijakan penting dalam bidang dalam bidang ilmu pengetahuan, sejarah dan budaya yaitu:

  • Mengirim ekspedisi penemuan kembali Candi Borobudur

Raffles mengirimkan berbagai ekspedisi ke berbagai penjuru wilayah kekuasaannya. Ekspedisi ke wilayah Jawa menemukan kembali candi Borobudur, dan candi Prambanan. Ekspedisi ini diikuti oleh Colin Mackenzie, seorang surveyor dan perwira Inggris yang membuat laporan terhadap temuan sejarah ini. 

  • Mengirim ekspedisi ke Sumatera yang menemukan bunga Rafflesia

Di Sumatra, ekpsedisi yang dikirim oleh Raffles dikuti oleh Joseph Arnold, seorang ahli botani. Ekspedisi ini menemukan bunga Padma Raksasa, yang dikenal sekarang sebagai bunga Rafflesia arnoldii.

  • Membangun Kebun Raya Bogor

Karena iklim Batavia (sekarang Jakarta) yang panas, Raffless menggunakan Buitenzorg (sekarang Bogor) sebagai ibukotanya. Di Bogor ini, Raffles membangun taman yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

  • Menulis buku “History of Java”

Selain mengirimkan ekspedisi ilmu pengetahuan, Raffles juga menulis buku “History of Java”, sebuah tentang sejarah dan budaya, yang diterbitkan pada tahun 1817. Buku ini menggambarkan sejarah pulau Jawa dari zaman kuno sampai pada masa pendudukan Inggris.

4. Benarkan R.A. Kartini berpandangan maju dan modern, jelaskan!

Banyak yang menyebut Kartini sebagai tokoh gerakan emansipasi perempuan. Pemikiran dalam bukunya berjudul Door Duisternis Tot Lieht atau Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan keinginannya memperjuangkan kaum perempuan Jawa saat itu agar mendapatkan pendidikan layak.

Pemikiran Kartini sebagian besar dipengaruhi realitas sosial di sekelilingnya dan interaksi gagasan dengan rekan-rekannya di Belanda. Tapi, sifat progresif yang diwarisi dari ayahnya, Sosroningrat, bahwa pendidikan sebagai instrumen penting kemajuan bangsa dan ilmu pengetahuan sebagai pintu kebahagiaan individu dan masyarakat, telah membekas mendalam pada dirinya.

Ayahnya menyekolahkan semua anak-anaknya tanpa kecuali ke sekolah Belanda, Europese Lagere School. Akses dan fasilitas pendidikan itulah yang semakin membukanya bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan begitu penting bagi kemajuan bangsanya, terutama kaum perempuan.

Kegelisahannya terhadap situasi sosial, adat, dan kultur yang membelenggu kaum bumiputra untuk mendapatkan pendidikan layak ia ungkapkan dalam surat-surat yang ia kirim kepada sahabatnya di Belanda, Nyonya Abendanon. Dalam salah satu suratnya, ia utarakan tentang pendidikan sebagai kewajiban yang mulia dan suci.

Kartini berpandangan, merupakan kejahatan apabila dirinya sebagai pendidik tidak memiliki kecakapan penuh sebagai pendidik. Maksudnya, seorang pendidik yang baik seharusnya berintrospeksi diri terlebih dahulu apakah dirinya memiliki kemampuan sebagai pendidik. Kemampuan pendidik tidak hanya profesi, tetapi juga kecakapan moral spiritual.

Jika seorang pendidik memiliki kemampuan kognitif, sekaligus kecakapan spiritual, akan menghasilkan peserta didik yang cerdas dalam pengetahuan dan saleh dalam perbuatan. Dalam bahasa Kartini, tujuan pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghasilkan pendidikan budi dan jiwa.

Kartini berharap, manusia bumiputra yang diinginkan dalam proses pendidikan menjadi individu yang memiliki kecerdasan akal dan keluhuran budi pekerti. Dalam bahasa konstitusi kita yang tertulis di Pasal 31 ayat 3 UUD Negara RI tahun 1945 dinyatakan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

Ini berarti, pemikiran pendidikan Kartini telah melampaui zamannya. Dalam usia 12 tahun, Kartini muda sudah mampu memformulasikan gagasan pendidikan secara filosofis dan sosiologis. Ketika kaumnya sedang terimpit oleh adat yang kolot dan bangsanya terbelenggu rantai kebodohan, ia tuangkan kegelisahannya dalam lembaran surat kepada sahabatnya di Belanda.

Dalam bahasa yang kemudian disederhanakan Abendanon sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini seakan-akan mencoba mengubah alam kegelapan yang mengitari bangsanya, dikikis habis melalui pendidikan. Melalui pendidikan, bangsanya akan menuju ke zaman terang benderang.

Sebagai penganut Islam, Kartini seakan menjawab seruan Alquran dalam surah al-Baqarah ayat 257. Buku itu sepertinya usaha Kartini untuk menerjemahkan wahyu ilahiah terhadap pemaknaan kegelapan sebagai kondisi kekufuran menuju kepada cahaya terang sebagai manifestasi bentuk keimanannya kepada Allah.

Kartini juga meyakini, sebagaimana pernah diungkapkan ayahnya, pendidikan (ilmu pengetahuan) akan membawanya menuju kebahagiaan hidup dan kesejahteraan. Paradigma berpikir ini selaras dengan Alquran surah al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Pembacaan realitas sosial Kartini terhadap gejala di sekitarnya juga dapat kita pandang sebagai upayanya membumikan wahyu ilahiah Alquran surah al-Alaq ayat 1. Dalam tafsir Al-Misbah terhadap pemaknaan ayat ini bahwa Islam memerintahkan kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan demi meningkatkan derajat sebagai makhluk Allah yang mulia dan dianjurkan sanggup menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Konstruksi berpikir Kartini ini juga mirip dengan gagasan pendidikan Muhammad Iqbal (1877-1938), intelektual sekaligus penyair Muslim. Dalam bukunya The Reconstruction of Religous Tought in Islam (1971), Iqbal membuat rumusan yang memadukan pendidikan berbasis al-fikr dan zikir.

Pemikiran ini memadukan aspek kognitif dan afektif atau dalam bahasa Kartini, kecerdasan akal, budi, dan jiwa. Pemikiran Kartini ternyata menembus batas geografis dan gender sekalipun. Oleh karenanya, layak jika ia pun harus didaulat sebagai tokoh pendidikan bangsa.

Kontekstualiasi gagasan pendidikan Kartini dalam menjawab realitas dunia pendidikan saat ini tentu bisa menjadi salah satu refleksi dan autokritik. Jika ia masih hidup, Kartini mungkin mengernyitkan dahi jika melihat realitas dunia pendidikan kita yang lebih melihat pada sisi kognitif semata daripada aspek pendidikan budi pekerti.

Ia jelas tak menginginkan jika peserta didik yang dihasilkan dari proses pendidikan hanya menjadi individu yang berpikir pragmatis, mengejar target kelulusan. Kartini tentu tidak menginginkan model dan sistem pendidikan yang memberi ruang munculnya gejala pragmatisme yang kian meluas di dunia pendidikan kita.

Masih munculnya kasus kecurangan dalam penyelenggaraan UN, program sertifikasi pendidik yang lebih banyak bersifat formalitas demi mendapatkan tunjangan profesi, sekolah dan kampus berlomba-lomba menarik pungutan adalah contoh nyata perilaku pragmatis. Dan, semuanya hanya untuk mengejar sisi materi.

Pragmatisme hanyalah salah satu gambaran dari wajah anak negeri hasil sistem pendidikan yang hanya menekankan aspek lahiriah dan menomorduakan spiritual. Kita tentu tak menginginkan terkungkung dan terbelenggu oleh tujuan pragmatis jangka pendek.

Pendidikan bukanlah untuk mengukur prestasi peserta didik dalam bentuk angka. Pendidikan seharusnya lebih ditujukan untuk pembentukan watak dan jati diri bangsa yang agung yang dipenuhi individu berperilaku akhlak mulia. Seperti kata Kartini, pendidikan tidak hanya menghasilkan kecerdasan akal, tetapi budi dan jiwa.

5. Dengan dilaksanakannya Politik Etis di Indonesia telah membuat perubahan yang signifikan dalam sejarah perjungan bangsa Indonesia, coba jelaskan!

Dengan dilaksanakannya Politik Etis di Indonesia telah membuat perubahan yang signifikan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yaitu munculnya kalangan terdidik hasil pendidikan modern, yang kemudian memimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Para tokoh seperti Cipto Mangunkusumo, dan Ir Sukarno ini mendapatkan pendidikan modern hasil Politik Etis dan menggunakannya untuk memimpin perjuangan yang berupaya memerdekakan Indonesia.

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang berpendapat bahwa Belanda harus bertanggung jawab bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik dan reaksi terhadap politik tanam paksa.

Dalam Politik Etis ini Belanda memperkenalkan pendidikan modern untuk orang Indonesia sebagai kompensasi atas keuntungan yang didapat Belanda selama Tanam Paksa.

Politik Etis tak lain adalah dampak dari Politik Tanam Paksa dan Politik Liberal di Hindia Belanda pada abad ke 19. Dalam masa ini penjajah Belanda membangun perkebunan-perkebunan untuk menghasilkan tanaman ekspor dan memaksa penduduk Indonesia sebagai pekerja.

Meski keuntungan yang didapat pengusaha Belanda besar, penduduk adli Indonesia harus menderita karena harus bekerja dengan gaji kecil dan kondisi berat. Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mencuat setelah ditulis oleh penulis Multatuli (nama asli Eduard Douwes Dekker) dalam novelnya “Max Havelaar”, yang bercerita tentang penderitaan pekerja pribumi di perkebunan kopi milik pengusaha Belanda.

Akibat tulisan ini, disertai dengan aktivisme di Belanda dari Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus), maka pemerintah Belanda menjalankan politik Etis atau Politik Balas Budi yang berusaha meningkatkan pendidikan dan kondisi kehidupan penduduk asli Hindia Belanda.

Politik Etis ini melahirkan kalangan berpendidikan yang kemudian menjadi pendorong Kebangkitan Nasional Indonesia. Mereka inilah yang kemudian menjadi penggerak kebangkitan nasional yang kemudian menghasilkan kemerdekaan Indonesia.

Para tokoh ini misalnya adalah Dr Soetomo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan Dr Cipto Mangunkusumo yang merupakan lulusan STOVIA (Sekolah Kedokteran di Batavia) dan Ir Sukarno yang merupakan lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (Sekolah Teknik Bandung, sekarang ITB).

Para lulusan sekolah dengan pendidikan modern ini memimpin pergerakan kemerdekaan, mulai dari pendirian organiasi pertama seperti Budi Utomo dan Indische Partij. Kemudian tahap berikutnya adalah persatuan organisasi pergerakan dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928, hingga berpuncak pada kemerdekaan Indonesia.

Kebangkitan nasional dan pergerakan kemerdekaan ini tidak akan mungkin tanpa adanya para tokoh yang visioner dan memiliki kemampuan yang handal, sebagai hasil pendidikan modern. Dan pendidikan ini adalah hasil yang didapatkan dari Politik Etis ini.

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu Halaman 175 Bab 3 (Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Kurikulum 2013 Revisi 2017 LATIH UJI KOMPETENSI Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu Halaman 175 Bab 3 (Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya?

[Kunci Jawaban] Kalor lebur es adalah 80 kal/g. Apa maksudnya? Pertanyaan: 3. Kalor lebur es …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!