Bagaimana menurut Islam dan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974

Questions and Answer Keys Islamic Religious Education and Character Class 122013 Revision 2018 Curriculum Student Activities What according to Islam and the Marriage Law No.1 of 1974 Page 138 Chapter 7 (The Beauty of Building a Household Mahligai) ~ Assalamualikum semuanya, kembali lagi bersama laguasyik.com. Pada kali ini saya akan memberi tahu kalian semua tentang Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Aktivitas Siswa Bagaimana menurut Islam dan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974 Halaman 138 Bab 7 (Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga) kepada para siswa/siswi yang melihat artikel ini. Yuk, kita langsung saja ke soal dan jawabannya. ~

Aktivitas Siswa

Di samping beberapa model pernikahan di atas, pernikahan beda agama juga sering dan akan terus menjadi fenomena, karena kita hidup di dalam masyarakat yang memeluk bermacam agama. Untuk membekali kalian dengan wawasan yang cukup. Ikutilah beberapa syarat berikut.

1. Baca Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974.

2. Lakukan diskusi dengan tema “nikah beda agama” dengan format diskusi panel. Bagaimana menurut Islam dan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974.

Pernikahan beda agama atau perkawinan antar agama, dapat diartikan sebagai perkawianan dua insan yang berbeda agama, kepercayaan atau faham.

Berdasarkan KHI pasal 40 ayat (c): “Dilarang perkawinan antara seorang wanita beragama Islam dengan seorang pria tidak beragama Islam”.

Menurut hemat Masjfuk, larangan perkawinan tersebut oleh KHI mempunyai alasan yang cukup kuat, yakni: Pertama; dari segi hukum positif bisa dikemukakan dasar hukumnya antara lain, ialah pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Kedua; dari segi hukum Islam dapat disebutkan dalil-dalilnya sebagai berikut: a. سَدُّ الذَّرِيْعَةِ artinya sebagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kemurtadan dan kehancuran rumah tangga akibat perkawinan antara orang Islam dengan non Islam.

Kaidah Fiqh دَرْءُ اْلمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ اْلمَصَالِحِ artinya, mencegah/menghindari mafsadah/mudharat atau resiko, dalam hal ini berupa kemurtadan dan broken home itu harus didahulukan/diutamakan daripada upaya mencari/menariknya ke dalam Islam (Islamisasi) suami/istri, anak-anak keturunannya nanti dan keluarga besar dari masing-masing suami istri yang berbeda agama itu.

Pada prinspnya agama Islam melarang (haram) perkawinan antara seorang beragama Islam dengan seorang yang tidak beragama Islam (perhatikan Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 221), sedangkan izin kawin seorang pria Muslim dengan seorang wanita dari Ahlul Kitab (Nashrani/Yahudi) berdasarkan Al-Quran surat Al-Maidah ayat 5 itu hanyalah dispensasi bersyarat, yakni kualitas iman dan Islam pria Muslim tersebut haruslah cukup baik, karena perkawinan tersebut mengandung resiko yang tinggi (pindah agama atau cerai). Karena itu pemerintah berhak membuat peraturan yang melarang perkawinan antara seorang yang beragama Islam (pria/wanita) dengan seorang yang tidak beragama Islam (pria/wanita) apapun agamanya, sedangkan umat Islam Indonesia berkewajiban mentaati larangan pemerintah itu sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 50 ayat (c) dan pasal 44.

Pernikahan beda agama menurut UU perkawinan No 1 tahun 1974

Merujuk pada Undang-undang No. 1/1974 pada pasal 57 yang menyatakan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. Berdasarkan pada pasal 57 UU No. 1/1974, maka perkawinan beda agama di Indonesia bukanlah merupakan perkawinan campuran. Sehingga semestinya pengajuan permohonan perkawinan beda agama baik di KUA dan Kantor Catatan Sipil dapat ditolak.[3]

Ketidakjelasan dan ketidaktegasan Undang-undang Perkawinan tentang perkawinan antar agama dalam pasal 2 adalah pernyataan “menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaannya”. Artinya jika perkawinan kedua calon suami-isteri adalah sama, tidak ada kesulitan. Tapi jika hukum agama atau kepercayaannya berbeda, maka dalam hal adanya perbedaan kedua hukum agama atau kepercayaan itu harus dipenuhi semua, berarti satu kali menurut hukum agama atau kepercayaan calon dan satu kali lagi menurut hukum agama atau kepercayaan dari calon yang lainnya.

Dalam praktek perkawinan antar agama dapat dilaksanakan dengan menganut salah satu cara baik dari hukum agama atau kepercayaan si suami atau si calon isteri. Artinya salah calon yang lain mengikuti atau menundukkan diri kepada salah satu hukum agama atau kepercayaan pasangannya

PERATURAN-PERATURAN YANG MENGATUR TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA

Dewasa ini ( sebelum berlaku UU No. 1 tahun 1974) berlaku berbagai hukum perkawinan bagi berbagai golongan warganegara dan berbagai daerah seperti berikut :

  • Bagi orang-orang Indonesia Asli yang beragama Islam berlaku hukum agama yang telah diresiplir dalam hukum adat .
  • Bagi orang-orang Indonesia asli lainnya berlaku hukum adat
  • Bagi orang-orang Indonesia yang beragama Kristen berlaku huwelijksordonantie christen Indonesia
  • Bagi orang timur asing lain-lainnya dan warganegara Indonesia keturunan cina berlaku ketentuan – ketentuan kitab undang-undang hukum perdata dengan sedikit perubahan .
  • Bagi orang-orang timur asing lain-lainnya dan warganegara Indonesia keturunan timur asing lainnya berlaku hukum adat mereka
  • Bagi orang-orang eropa dan warganegara Indonesia keturunan Eropa dan yang disamakan dengan mereka berlaku kitab undang-undang hukum perdata .

Berkaitan dengan hal tersebut point nomor  1 bahwasannya dalam menentukan hukum nikah beda agama kita dapat menilik dari ketentuan pada nomor tersebut, disitu dijelaskan bahwa secara islam hukum nikah beda agama itu tidak diperbolehkan atau diharamkan , namun belum tentu demikian halnya jika ditilik dari segi hukum positif , karena pada hakikatnya hukum positif belum mengundangkan adanya hukum yang mengatur tentang nikah beda agama , melainkan mengatur tentang hukum  nikah campuran dalam artian nikah dengan orang yang berbeda kewarganegaraan.

3. Mintalah guru kalian untuk menjadi nara sumber, atau mengundang nara sumber lain jika perlu!

Sekian Kunci Jawaban Dari Saya Tentang “Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Aktivitas Siswa Bagaimana menurut Islam dan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974 Halaman 138 Bab 7 (Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga)”, Dan terima kasih sudah berkunjung blog yang sederhana. Semoga kunci jawaban ini bisa membantu kalian yang belum menjawab Soal dan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 12 Kurikulum 2013 Revisi 2018 Aktivitas Siswa Bagaimana menurut Islam dan Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974 Halaman 138 Bab 7 (Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga). Jika ada kelebihan pada artikel ini semoga bermanfaat bagi kalian semua dan jika ada kekurangan maupun salah mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Jika ada pertanyaan dan ada saran untuk kelebihan dan kekurangan selain ini bisa komen di kolom komentar.

About Muhammad

Check Also

[Kunci Jawaban] Apa perbedaan antara suhu dan kalor?

[Kunci Jawaban] Apa perbedaan antara suhu dan kalor? Pertanyaan: Apa perbedaan antara suhu dan kalor? …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!